Jokowi mampu melakukan
terobosan baru dalam mengubah Solo, sehingga kebijakan populisnya
dapat dirasakan langsung oleh warganya.
Walikota Solo Joko Widodo, atau biasa disapa
Jokowi, mulai dikenal banyak orang setelah berhasil menata pedagang kaki
lima di Kota Solo, tanpa gejolak sama-sekali.
Dengan keahliannya berkomunikasi,
Jokowi dianggap mampu mematahkan mitos pemindahan PKL harus berujung
pada bentrokan antara aparat dan pedagang, seperti yang terjadi di
wilayah lain.
Empat tahun lalu, sekitar 900 orang pedagang itu
akhirnya mau meninggalkan Taman Banjarsari di pusat Kota Solo menuju
lokasi baru di Pasar Klitikan.
Ini adalah salah-satu contoh keberhasilan lelaki
kelahiran 21 Juni 1961 ini, semenjak dia dipercaya menjadi Walikota
Solo sejak tahun 2005 lalu.
"Saya selalu berpikir sederhana, dan berbuat
juga sederhana", kata Joko Widodo dalam wawancara khusus dengan BBC
Indonesia di rumah dinasnya di Kota Solo, hari Senin (25/7) lalu.
"Kita harus berani membuat terobosan, jangan rutinas, jangan monoton, (harus) selalu ada pembaharuan, selalu ada inovasi"
"Tapi," lanjutnya, "(Kita) harus berani membuat
terobosan, jangan rutin, jangan monoton, (harus) selalu ada pembaharuan,
selalu ada inovasi, itulah yang terus kita lakukan".
Hal itu ditandaskan Jokowi ketika ditanya apa resepnya selama 5 tahun memimpin warga Kota Solo.
Lebih lanjut alumni Fakultas Kehutanan, UGM,
Yogyakarta (1985) ini mengatakan, upaya terobosan itu dia lakukan karena
selama ini program kerja Kota Solo terlalu monoton dan tidak jelas
ukuran keberhasilannya.
"Sehingga kita tidak tahu golnya kemana, ukuran
keberhasilannya itu apa," kata Jokowi, yang dulu dikenal sebagai
pengusaha di bidang meubel.
Penataan dan penambahan pasar tradisional menjadi prioritas Jokowi.
Untuk itulah, bersama wakilnya FX Hadi Rudyatmo,
Jokowi meminta bawahannya di jajaran birokrasi Kota Solo membuat konsep
yang jelas dan kongkrit setiap mengajukan program kerja -- termasuk
bagaimana pengawasannya.
"Tidak hanya menghabiskan uang, tetapi harus jelas kira-kira kembalian ke rakyat, kembalian ke masyarakat, kembalian ke kota itu (harus) dihitung," jelasnya.
Walikota PKL
Dia dianggap mampu mematahkan mitos pemindahan
PKL harus berujung pada bentrokan antara aparat dan pedagang, seperti
yang terjadi di wilayah lain.
Tetapi menurut Joko, proses itu tidaklah
gampang. Dia harus menjalin komunikasi dan negosiasi berbulan-bulan
dengan perwakilan pedagang kali lima itu, hingga mereka akhirnya mau
pindah ke lokasi yang baru, tanpa ada protes.
Kepada Heyder Affan, Jokowi menjelaskan filosofi kepemimpinannya.
"Saya melakukan pendekatan manusiawi terhadap
mereka," kata Jokowi, suatu saat, mengambarkan proses komunikasinya
dengan para PKL itu.
Akhir Juli lalu, saya datangi lokasi bekas PKL
di Taman Banjarsari, dan yang tampak adalah kenyamanan yang
diperlihatkan belasan warga kota dengan beristirahat di tempat itu --
yang terlihat asri dan tenang.
Para PKL yang telah sekitar 4 tahun menempati
tempat baru di Pasar Klitikan, seperti disampaikan perwakilannya, Joko
Sutikno, mengaku merasa lebih nyaman berada di lokasi yang baru.
"Di sini lebih ada kepastian hukum, berbeda saat saya berada di lokasi yang lama," katanya.
Walaupun program penataan semua PKL di kota itu
belum tuntas, atas upaya terobosannya itu Jokowi dianggap mampu
memberikan pelayanan yang baik bagi warga Kota Solo, utamanya bagi warga
kalangan bawah.
Tokoh perubahan
Mereka menyebut program seperti pelayanan asuransi kesehatan untuk warga miskin, serta layanan kesehatan dengan biaya dari APBD.
Pedagang kaki lima di Kota Solo diberi tempat khusus oleh Jokowi.
Reformasi birokrasi berupa antara lain kemudahan
pembuatan KTP juga disebut sebagian warga kota itu tidak terlepas dari
kepemimpinan Jokowi.
Atas usahanya itu, lelaki kelahiran 21 Juni 1961 ini diganjar penghargaan Bung Hatta Award 2010.
Harian Republika juga menempatkannya sebagai Tokoh Perubahan 2010, menyusul langkah Majalah Tempo dua tahun sebelumnya yang memilihnya sebagai tokoh pilihan -- yang dianggap berhasil melakukan perubahan bermanfaat bagi warganya.
Pemihakannya kepada warga miskin kota, juga dibuktikannya dengan memberdayakan pasar tradisional, dan membatasi pembangunan mal.
"Saya tidak anti mal. Tetapi kita sebagai pemerintah kota harus mengendalikan mereka, membatasi mereka"
"APBD itu harus sebanyak-banyaknya digunakan
untuk masyarakat, utamanya masyarakat kurang mampu," kata Jokowi, yang
mengenakan jas hitam saat diwawancarai BBC Indonesia.
Namun menurutnya, itu tidak berarti pihaknya
menolak kehadiran investor, yang disebutnya "dibutuhkan untuk
menggerakkan ekonomi kota".
"Tetapi jangan investasi yang menggerogoti
ekonomi kecil," tandasnya. "Misalnya (investasi berupa pendirian)
supermarket, yang nanti bisa berbenturan dengan pasar tradisional".
"Saya tidak anti mal. Tetapi kita sebagai pemerintah kota harus mengendalikan mereka, membatasi mereka," jelas Joko.
Membangun sistem
Dibayangi kemampuannya dalam melakukan berbagai
gebrakan demi transformasi kota Solo, sebagian warga itu khawatir semua
itu akan berakhir, ketika masa kepemimpinan Joko berakhir, empat tahun
lagi.
Penambahan sarana transportasi, seperti bus khusus, menghubungkan berbagai wilayah di Kota Solo.
"Saya rasa yang perlu diperbaiki adalah kesinambungannya," kata Abdullah AA kepada BBC Indonesia.
Dalam wawancara kepada BBC Indonesia, Jokowi mengaku terus membenahi dan membangun sistem yang baru.
"Saya kira (sistem) kayak seperti
masalah KTP, itu 'kan sistem yang kita bangun," kata Jokowi, yang
sebelum menjadi walikota dikenal sebagai pengusaha meubel.
Alumni Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta ini
menolak jika disebut kepemimpinannya selama ini semata berfokus pada
gaya kepemimpinan.
"Saya paling tidak senang kalau tergantung pada figur," tegasnya. "Sehingga yang saya bangun adalah sistem".
Menolak suap
Selama dipercaya menjadi Walikota Solo sejak
2005 lalu, Jokowi mengaku berulangkali menolak sogokan uang dari
sejumlah pengusaha.
Upaya ini dilatari motif agar sang walikota meluluskan proyek investasi milik mereka.
"Kalau memang investasinya baik, kenapa harus
pakai duit-duit seperti itu. Silakan jalani sistem yang ada, ikuti
aturan yang ada. Karena aturannya seperti itu," katanya, menjelaskan
alasan penolakannya.
Sejauh mana Anda mampu bertahan dari godaan materi seperti itu?
Menurutnya, ketaatan pada sistem merupakan senjata ampuh menolak praktek busuk seperti itu.
"Nggak ada (istilah) balas jasa di PDI-P, ya karena ideologi yang selalu disampaikan partai, itu sangat luar biasa, itu saya ambil dalam panduan dalam bekerja"
Hal ini pula yang dia tekankan kepada anak buahnya di jajaran birokrasi.
"Kalau nggak mau mengikuti sistem yang kita bangun, ya kita tinggal," tegasnya.
Kepada keluarga dan lingkungan terdekatnya, juga dia memberikan batasan jelas tentang sistem tersebut. Lainnya? "Ya, yang selalu saya sampaikan, bahwa kita sudah diberi amanah oleh rakyat untuk bekerja sebaik mungkin".
Tetapi apakah Anda bisa menepis politik balas jasa, karena Anda selama ini disokong oleh PDI Perjuangan, tanya BBC Indonesia.
"Nggak ada (istilah) balas jasa di
PDI-P, ya karena ideologi yang selalu disampaikan partai, itu sangat
luar biasa, itu saya ambil dalam panduan dalam bekerja," kata Jokowi
dengan nada tegas.
Nominator Gubernur Jakarta
Tahun 2015 nanti, periode kepemimpinan (yang kedua) Joko Widodo sebagai Walikota Solo, akan berakhir.
PDI Perjuangan, sebagai partai penyokongnya,
telah menominasikannya sebagai calon Gubernur DKI Jakarta mendatang,
bersama 2 orang nominator lainnya.
Joko Widodo menyebut kepercayaan yang diberikan partai penyokongnya itu sebagai "tantangan".
"Karena di Jakarta ada persoalan yang sudah lama
tidak pernah terselesaikan. Dan menurut saya itu menantang," kata
Jokowi, yang pada tahun 2010 lalu dianugerahi 'Tokoh Perubahan 2010'
oleh Harian Republika.
Menurutnya, sekarang PDI P tengah melakukan survei untuk menilai siapa nominator yang kelak layak dicalonkan secara resmi.
"Tapi terus terang, saya tidak membayangkan atau
memikirkan jabatan itu. Semuanya terserah partai," kata pria kelahiran
Kota Solo ini.
Pemimpin dan citra media
Pertanyaan ini saya utarakan terkait dengan
istilah 'pencitraan' yang oleh sebagian orang dianggap sebagai persoalan
yang menimpa para elit pimpinan di tingkat nasional.
Joko Widodo, yang pernah diundang memberikan
materi tentang kepemimpinan di Lemhannas ini, menyatakan, pembangunan
program kerja yang dilakukannya selama ini adalah nyata dan kongkrit.
Menurut Jokowi, citra seorang pemimpin terbangun karena program kerjanya dan bukan imej semata.
"Yang penting kan membangun programnya, itu kenyataan kongkrit yang bisa dilihat, " tegasnya.
Dan menurutnya, kalau ingin mengetahui hasil kerjanya, bisa ditanyakan langsung kepada warga Kota Solo.
"Jangan tanya kepada saya, tapi tanya ke masyarakat, benar atau tidak, baik atau tidak baik".
"Saya nggak bisa menilai diri
saya-sendiri," katanya lagi, seraya menambahkan, media massa bisa
dijadikan sumber untuk menanyakan program-program kerjanya selama ini.
Lebih lanjut Joko mengatakan, apabila media
melaporkan 'tidak baik' tentang program kerjanya, barangkali programnya
itu memang tidak baik.
"Sehingga saya harus memperbaikinya (program itu)," tandas Jokowi.
Dengan kata lain, katanya, "sebuah citra terbangun bukan karena kita jaga imej, tapi memang karena rakyat mengatakan itu".
Tukang Kayu
Setelah lulus kuliah, Jokowi lantas memilih terjun sebagai pengusaha meubel, yang dia istilahkan sebagai "tukang kayu".
Pilihan ini tidak terlepas dari aktivitas
keluarga besarnya -- dari garis ayah dan ibunya -- yang sejak awal
menggeluti dunia perkayuan.
Itulah sebabnya, dia kemudian memilih kuliah di Fakultas Kehutanan, UGM, jurusan Industri Perkayuan.
Lebih dari 20 tahun malang-melintang
berkecimpung di bisnis meubel kayu itu, lelaki berperawakan ramping ini
tidak pernah membayangkan menjadi walikota.
Pembangunan infrastruktur kota digalakkan selama Jokowi memimpin Solo.
"Saya juga bingung," jawabnya, lagi-lagi dengan
tertawa, ketika saya tanya kenapa dia akhirnya bersedia dicalonkan PDI
Perjuangan sebagai Walikota Solo, tahun 2005 lalu.
Ketika itu, Jokowi dan pasangannya memenangkan pilkada, dengan perolehan suara 37 persen.
"Pada saat (pemilihan) pertama, ya, kecelakaan,
karena calon lain pintar-pintar dan sangat populer. Saya sendiri tidak
populer dan bukan orang politik."
Mengetahui dia terpilih sebagai walikota, yang
tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, membuat Jokowi semakin meyakini
bahwa hidup seseorang itu 'ada yang mengatur'.
"Inilah hidup, saya jalani saja hidup yang sudah digariskan oleh yang di atas".
Tetapi pada pilkada berikutnya, tahun 2010 lalu,
Jokowi dan pasangannya makin berkibar, dengan meraih suara 91 persen,
yang tentu saja ini tidak terlepas dari berbagai program dan gebrakannya
selama periode pertama kepemimpinannya sebagai orang nomor satu di Kota
Solo.
Pengaruh sosok ibu
Kepada BBC Indonesia, peraih berbagai
penghargaan ini, mengungkap dua orang yang disebutnya berpengaruh besar
terhadap perjalanan hidup dan karakternya sekarang.
Sosok pertama adalah Bung Karno,"yang sosok dan pemikirannya begitu brilian terhadap negara ini".
Dia kemudian mengaku membaca semua buku-buku karya presiden pertama Indonesia itu.
"Dan kedua adalah ibu saya," ungkapnya. "dia banyak memberi pengaruh pada sisi karakter dan kepribadian saya".
Ketika menyebut sosok ibunya, suara Jokowi agak memelan, dan matanya terlihat berkaca-kaca.
"Ibu saya itu sangat pekerja keras. Jadi saya kira, contoh seperti itu yang saya ambil".
Solo sumbu pendek
Dalam wawancara sekitar 1 jam itu, saya dan Joko Widodo sempat menyinggung karakter Kota Solo dan sejarahnya.
"Kalau orang menyebut Solo itu sumbu pendek itu dulu, sekarang tidak," tandasnya, dengan mimik serius.
Kota Solo pernah dianggap bersumbu pendek dan didiami warga yang multiideologis.
Dia kemudian bercerita singkat. "Memang dalam sejarah, kota ini dibakar 11 kali, lalu balai kota itu dibakar 3 kali".
Menurutnya, tidak ada kota "seseram Kota Solo meski warganya (dikenal berperangai) halus."
"Tapi begitu keliru me-manage bisa menjadi malapetaka seperti itu".
Hal ini dia tekankan setelah saya tanya
"bagaimana dia membesarkan Kota Solo yang warganya memiliki latar
ideologi dan pilihan politik yang beraneka".
Seperti diketahui, PDI Perjuangan yang beraliran nasionalis sekuler dikenal mempunyai basis kuat di kota ini.
Tapi di sisi lain, di sekitar kota ini berdiri
pula pesantren dan organisasi Islam yang pernah dikaitkan dengan
tersangka teroris Abubakar Baasyir.
"Di sini komplit, ada fundamentalis Kristen, ada fundamentalis Islam, Fundamentalis Kejawen juga masih ada, bahkan fundemantelis Komunis masih ada."
Di Jaman Orde Lama, kota ini dikenal pula sebagai salah-satu basis Partai Komunis Indonesia, PKI.
"Di sini komplit, ada fundamentalis Kristen, ada
fundamentalis Islam, fundamentalis kejawen juga masih ada, bahkan
fundemantelis Komunis masih ada," ungkapnya, terus-terang.
Sebagai pemimpin, Jokowi mengaku memberi akses yang sama kepada semua warganya -- demi memajukan Solo.
"Jangan sampai tersumbat komunikasi, jangan sampai saluran ide gagasan tidak bisa tersampaikan kepada kita,"katanya.
Menurutnya, komunikasi dengan siapapun sangat diperlukan. "Dan itu sangat mendinginkan psikologi kota."
"Kota ini akan menjadi dingin, sejuk, kalau
komunikasi baik dengan siapapun," tandas Jokowi yang dikenal lebih
sering menemui warganya ketimbang duduk di belakang meja kerjanya.
Penggemar musik cadas
Tidak banyak yang tahu kalau Joko Widodo adalah penggemar musik beraliran keras.
Saya pun baru tahu setelah membaca blog milik seorang warga Kota Solo, yang bertutur tentang pertemuan singkatnya dengan Jokowi.
Itulah sebabnya, di akhir wawancara, saya sengaja menanyakan ihwal kegemarannya ini.
Dan bisa ditebak: paras Jokowi sekonyong-konyong
terlihat berpendar, dan tawanya terlihat lepas, ketika saya tanya
"bagaimana Anda bisa menyukai aliran musik hingar-bingar seperti itu…"
"Ya, karena di situ ada kebebasan berekspresi," tandasnya, seraya tergelak.
"Kadang-kadang (lirik dan irama musik rock seperti itu) memberi inspirasi, kalau kita lakukan pada arah positif, itu bisa memberi dampak yang baik pada masyarakat"
"Dan kebebasan seperti itu dibutuhkan dalam membuat terobosan kebijakan," katanya lagi.
Jokowi lantas menyebut beberapa grup musik
cadas, mulai era tahun 70-an hingga sekarang, seperti Led Zeppelin,
Black Sabbath, Napalm Death, Sepultura, Metallica, serta Fear Factory.
"Kadang-kadang (lirik dan irama musik seperti
itu) memberi inspirasi, kalau kita lakukan pada arah positif, itu bisa
memberi dampak yang baik pada masyarakat," jelasnya.
Demi kebebasan itu pula, Jokowi mengenang, dia
sempat memelihara rambut gondrong ketika masih belia. "Tapi kalau
sekarang walikota gondrong, nanti jadi lucu...ha-ha-ha..."
Untuk menyalurkan ide kebebasan itu, alumni
Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta ini, lantas menggeluti organisasi
pencinta alam, tetapi bukan organisasi kemahasiswaan yang berorientasi
politik.
(sumber: BBC Indonesia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar