Demi mencari sesuap nasi, ribuan TKI mengadu nasib ke
negeri orang. Namun bukan rezeki yang menyambut, justru ajal yang
menjemput.
Kasus penyiksaan hingga pembunuhan terhadap para
pahlawan devisa ini sudah begitu sering terjadi tapi tidak banyak ada
upaya perlindungan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia selain
sempat menghentikan pengiriman TKI ke Malaysia (2009) dan membentuk
Satgas untuk menolong TKI yang terjerat hukuman mati.
Pekan ini publik dikejutkan dengan
kabar kematian tiga TKI asal Nusa Tenggara Barat di Malaysia yang diduga
menjadi korban perdagangan organ tubuh.
Para korban ditemukan tewas dengan luka tembakan di sebuah kolam pemancingan di Seremban, negara bagian Negeri Sembilan.
Meski penyebab kematian tidak wajar, KBRI Kuala
Lumpur memperlakukan kasus ini seperti kematian biasa. Dokumen kematian
dan pengiriman jenazah ke kampung halaman ditandatangani tanpa ada
pengecekan mengenai penyebab kematian.
Namun keluarga di kampung curiga setelah melihat
bekas jahitan yang tidak wajar di tubuh jenazah antara lain di perut
bagian bawah dan kedua mata.
Bersama kelompok pegiat hak-hak pekerja migran,
Migrant CARE, mereka mengadu ke Kementerian Luar Negeri demi meminta
keadilan bagi para korban.
Tak banyak yang bisa dilakukan oleh pemerintah
selain menunjuk pengacara untuk mempelajari prosedur yang dilakukan
polisi Malaysia.
Direktur Eksekutif Migrant CARE Anis Hidayah mengungkapkan pesimismenya.
"Kami mengapresiasi langkah ini tapi kami
pesimis akan banyak manfaatnya karena tahun 1992 juga ada kasus seperti
ini, ketika diotopsi badannya isinya kantong plastik kresek. Tiga tahun
lalu juga ada kasus tiga TKi ditembak polisi Malaysia, sampai saat ini
belum ada perkembangannya," kata Anis.
Keselamatan kerja
Lain di Malaysia, lain lagi di Singapura.
Di negara Singa ini, sudah banyak pembantu rumah
tangga asal Indonesia yang meregang nyawa karena terjatuh dari
ketinggian saat membersihkan jendela atau menjemur pakaian.
Hari Minggu (22/04) Menteri Negara Pembangunan
Komunitas, Pemuda dan Olahraga, Halimah Yacob meminta warganya tidak
lagi memerintahkan pembantu rumah tangga mereka untuk membersihkan
jendela di gedung apartemen tinggi.
Permintaan itu disampaikan dalam acara wisuda 52
PRT Indonesia yang berhasil menyelesaikan pendidikan jenjang SMA dari
Sekolah Indonesia Singapura, seperti dilansir harian Straits Times. Para
PRT ini bersekolah dua hari dalam sebulan selama tiga tahun.
Tahun ini tujuh PRT asal Indonesia meninggal
dunia karena terjatuh dari ketinggian ketika membersihkan jendela atau
menjemur pakaian.
Menurut Halimah, kematian itu “sangat menyedihkan dan seharusnya bisa dicegah.”
Kementerian Tenaga Kerja Singapura menyikapi hal
itu dengan mengadakan pelatihan keamanan wajib bagi PRT baru dan akan
menjatuhkan hukuman bagi majikan yang tidak memberikan lingkungan kerja
aman.
Pembangunan tak merata
Meski nasib TKi di kedua jiran itu masih
tertatih, paling tidak secara geografis mereka masih lebih dekat dengan
kampung halaman. Satu kemewahan yang tidak dimiliki oleh kolega-kolega
mereka yang mengadu nasib ke jazirah Arab.
Sudah tidak terhitung kasus kekerasan yang menimpa TKI di Arab Saudi.
Dua tahun silam, publik tersentak mendengar
kabar penyiksaan yang dialami pembantu rumah tangga bernama Sumiati
Binti Salan Mustapa di Madinah.
Majikan perempuan Sumiati kerap menyiksanya dan membiarkannya kelaparan bahkan tega menggunting mulut perempuan itu.
Meski sudah banyak cerita tragis, tetap saja
tidak menyurutkan minat ribuan warga Indonesia untuk mempertaruhkan
nyawa mencari sesuap nasi di perantauan.
Minimnya lapangan pekerjaan dan pembangunan yang tidak merata di daerah merupakan salah satu pemicunya.
Beberapa bulan lalu pemerintah mencanangkan
proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
(MP3EI ) sebagai upaya pemerintah memeratakan pembangunan ekonomi agar
hasil-hasil yang diraih tidak selalu terpusat di ibukota negara, tapi
juga menyentuh sampai ke pelosok negeri ini.
MP3EI merupakan proyek jangka panjang sampai
2025, di mana proyek ini dipusatkan pada enam koridor ekonomi, yaitu
Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Papua, dan Maluku.
Namun menurut Anis Hidayah, proyek tersebut bukan lantas menjadi solusi tunggal.
"Yang harus dilakukan pemerintah adalah
memaksimalkan upaya perlindungan terhadap para pekerja migran di luar
negeri dan membuat kesepakatan dengan negara-negara penerima TKI agar
komitmen menjamin kesejahteraan dan keselamatan mereka, seperti yang
dilakukan pemerintah Filipina," kata Anis.
"Itulah kenapa jarang terdengar ada kasus
penyiksaan yang menimpa warga Filipina karena pemerintah mereka serius
dan peduli melindungi warganya," kata dia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar