Senin, 13 Juni 2011

Pelayanan Konsuler dan imigrasi KJRI Guangzhou

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Guangzhou berusaha memberikan pelayanan kekonsuleran dan Keimigrasian bagi para warga Indonesia (WNI) yang berdomisili di luar kota Guangzhou. Maka, akhir pekan lalu tanggal 7-9 Juni 2011, KJRI melakukan proyek "Mobile Services” di kota Guilin dan Nanning yang berada di propinsi Guangxi Zhuang Autonomous Region.
Dalam pelayanan keliling ke kedua kota yg ditempuh selama 12 jam berkendara mobil dari Guangzhou tersebut sebanyak 80 WNI yang tinggal di kota Guilin dan kota 100 WNI dikota Nanning telah memanfaatkan kemudahan pelayanan kekonsuleran dan keimigrasian keliling  tersebut. Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa yang belajar di  Guangxi Normal University di Guilin dan Guangxi Medical  University di Nanning.
"Melalui Pelayanan Keliling, warga Indonesia di Kota Guilin dan Nanning dapat menerima pelayanan konsuler dan Imigrasi berupa lapor diri, perpanjangan atau penggantian paspor dan pelayanan konsuler lainnya serta secara on the spot [langsung di tempat]," kata Agato Simamora, Atase  Imigrasi KJRI Guangzhou . Dia menuturkan bahwa program ini akan dilakukan secara berkala setiap 4 bulan sekali dalam rangka menjangkau kantong-kantong masyarakat Indonesia yang berada jauh dari kota Guangzhou.
Acara dilanjutkan dengan penyuluhan yang disampaikan oleh Konsul Pensosbud Ahmad Dahlan dan atase Imigrasi Agato Simamora. Mereka menjelaskan beberapa hal antara lain Tugas Pokok dan Fungsi KJRI  dalam bidang perlindungan warga RI di luar negeri, masalah peningkatan citra dan promosi budaya Indonesia di luar negeri dan sosialisasi UU no. 12 tahun 2006 mengenai status kewarganegaraan ganda terbatas dan dilanjutkan dengan dialog dan tanya jawab.
Kegiatan Pelayanan Konsuler dan Imigrasi Keliling KJRI Guangzhou bekerjasama dengan Persatuan Mahasiswa Indonesia di Tiongkok (Permit) Guangxi ini secara umum  mendapat sambutan sangat positif dari masyarakat Indonesia yang hadir. Dalam kegiatan di Guilin telah dilayani 29 permohonan pergantian SPRI dan pengembalian 5 paspor R.I yang telah selesai, serta penerimaan permohonan Visa 3 WNA. Di kota Nanning telah dilayani 2 permohonan pergantian SPRI karena habis masa berlaku serta rusak serta terdapat 12 permohonana pengajuan pergantian paspor karena berbagai hal seperti penggantian nama, tanggal lahir dll. (sumber KJRI Guangzhou )

KBRI - Riyadh Pulangkan 119 TKI Bermasalah
Dalam periode 1-8 Juni 2011, KBRI Riyadh telah memulangkan 119 orang TKI bermasalah/kaburan ke Indonesia yang pada umumnya bekerja di Riyadh. Para TKI bermasalah tersebut lari dari rumah majikan dan agen, dengan permasalahan yang dihadapi di antaranya adalah gaji tidak dibayar, disiksa majikan, tidak siap bekerja dan ingin pulang ke tanah air. Mereka lari ke KBRI Riyadh untuk meminta perlindungan, dan kemudian ditampung di Transit House yang tersedia di KBRI Riyadh untuk selanjutnya dilakukan pendataan dan proses administrasi oleh staf KBRI Riyadh.
Sesuai prosedur, selanjutnya para TKI bermasalah tersebut kemudian dibawa ke Departemen Sosial Kantor Urusan Ketenagakerjaan Wanita (KUKW) untuk diproses secara hukum dan diperjuangkan semua hak-haknya oleh Kepolisian setempat. KBRI Riyadh telah berhasil mengusahakan hak-hak para TKI bermasalah tersebut senilai US$ 79,960.00 (tujuh puluh sembilan ribu sembilan ratus enam puluh US Dollar) atau setara dengan Rp. 687.656.000 (enam ratus delapan puluh tujuh juta enam ratus lima puluh ribu Rupiah). KBRI Riyadh memfasilitasi pemberian Surat Perjalanan Laksana Pasport (SPLP) dan pembelian tiket pesawat. Bagi yang sakit (23 orang) diberikan pelayanan di Transit House dan difasilitasi untuk pengobatannya ke rumah sakit setempat. Terkait dengan pembiayaan tiket, beberapa di antara mereka ada yang dibayarkan oleh pemerintah Provinsi Riyadh dan sumbangan para dermawan, juga ada yang ditanggung oleh para TKI sendiri.

Pemulangan para TKI bermasalah tersebut dilakukan secara bertahap dengan pesawat terbang pada tanggal 1 Juni 2011 (34 orang) dengan menggunakan pesawat Singapore/SQ 453 (24 orang) dan Batavia/Y6 (10 orang); pada tanggal 2 Juni 2011 (17 orang) menggunakan pesawat Singapore/SQ 453 (17 orang); pada tanggal 5 Juni 2011 (28 orang) dengan menggunakan pesawat Emirate/EK 818 (25 orang); pada tanggal 6 Juni 2011 (23 orang) dengan menggunakan pesawat Emirate/EK 818 (3 orang) dan Batavia/Y6.894 (20 orang), pada tanggal 7 Juni 2011 (18 orang) dan pada tanggal 8 Juni 2011 (12 orang) dengan pesawat Batavia/Y6. Saat ini, jumlah TKI di Transit House KBRI Riyadh yang masih dalam proses untuk dipulangkan ke Indonesia sebanyak 160 orang.

KBRI Riyadh senantiasa mengupayakan permasalahan TKI di wilayah akreditasi KBRI Riyadh agar dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Hal ini sebagai wujud kepedulian dan keberpihakan, yang pada gilirannya untuk dapat memaksimalkan usaha perlindungan terhadap WNI/TKI. Dalam penanganan lebih lanjut di Indonesia, KBRI Riyadh telah meminta kepada pihak-pihak terkait di Indonesia (Kemlu, Kemnakertrans dan BNP2TKI) untuk dapat membantu kelancaran dan menangani secara baik terhadap para TKI tersebut setibanya di Indonesia, sampai ke daerah asalnya masing-masing.

KJRI Karachi Memberikan Perlindungan Terhadap Seorang WNI a. n Maret Retnowati yang bermasalah dengan majikannya

KJRI Karachi pada tanggal 12 Juni 2011 telah membantu memulangkan seorang WNI yang bekerja sebagai PRT di Karachi a.n Maret Retnowati (MR) yang bermasalah dengan majikannya. Upaya perlindungan terhadap MR mulai dilakukan pada tanggal 20 Mei 2011, pada saat itu MR mengirim pesan melalui sms kepada staf Konsuler KJRI Karachi untuk meminta perlindungan, yang segera  ditindaklanjuti oleh KJRI Karachi.

MR tiba di Karachi tanggal 11 Desember 2011 dan telah bekerja sebagai PRT untuk masa kontrak 2 (dua) tahun. Selama ini, gaji MR yang diperoleh sudah dikirim ke keluarganya di Surabaya. Mengingat istri majikannya akhir-akhir ini sering memperlakukannya secara tidak manusiawi, MR merasa terancam jiwanya dan meminta perlindungan KJRI Karachi. MR sejak tanggal 20 Mei 2011 malam, telah ditampung di KJRI Karachi sambil menunggu penyelesaian masalahnya, termasuk paspor MR yang  ditahan oleh majikannya.

Dalam membantu penyelesaian masalah tersebut, KJRI Karachi telah melakukan pendekatan “secara kekeluargaan” dengan majikan MR dan meminta agar hak-hak MR dapat diberikan termasuk paspor dan tiket perjalanan pulang ke Indonesia sesuai dengan perjanjian dalam kontrak. Walaupun majikan MR menyatakan bahwa dirinya merasa sangat dirugikan karena sebelumnya dia telah membayar penyalur tenaga kerja yang mengirim MR, namun dari pendekatan yang dilakukan oleh KJRI Karachi tersebut, majikan MR akhirnya menjanjikan akan memberikan paspor dan tiket pulang untuk MR.

KJRI Karachi, selain berhasil mendapatkan kembali paspor MR dan tiket pulang juga telah membantu proses percepatan perolehan visa yang bersangkutan sebagai salah satu syarat untuk mendapat exit permit dari pihak berwenang di Karachi yang berhasil diperoleh dari pihak Imigrasi Pakistan pada tanggal 8 Juni 2011 dan baru diberikan pada tanggal 10 Juni 2011. Sebelum meninggalkan Karachi, KJRI Karachi juga telah memberikan bekal uang untuk biaya perjalanan yang bersangkutan dari Jakarta ke Surabaya.

Mengingat kepulangan MR sebelum masa kontrak kerjanya berakhir, dikhawatirkan akan mendapat reaksi dari pihak yang mengirimnya yang berkemungkinan dapat membahayakan keselamatannya, KJRI Karachi telah bekerjasama dengan KJRI Dubai memfasilitasi MR selama berada (transit) di Airport Dubai dan dengan Direktorat Perlindungan WNI dan BHI dalam memfasilitasi MR dari Jakarta untuk kembali ke Surabaya. (Sumber KJRI Karachi)

Sampai Saat Ini, 601 WNI Telah Tinggalkan Libya Melalui Tunisia

Tunis, Minggu, 22 Mei 2011: Sehari setelah memperpanjang Posko Evakuasi WNI Libya di Kota Jerba, pada hari Sabtu tanggal 21 Mei, KBRI Tunis kembali mengevakuasi 4 orang TKW dari Libya. Keempat TKW tersebut adalah Maripah BT Tarbri Tarmad (26 tahun, Cirebon), Marsiti Asria (Serang, 37), Raniah BT Carsidi Sarjim (26, Indramayu) dan Watini BT Warta (28, Cirebon).

Keempat TKW tiba di pintu perbatasan Ras Jedir pada siang hari. Mereka sebelumnya ditampung selama satu-dua hari di KBRI Tripoli, sembari mengkoordinasikan perjalanan menuju perbatasan dengan pemilik gedung KBRI Tripoli yang selama ini secara aktif membantu proses evakuasi WNI dari Libya. Di antara hal yang menjadi pertimbangan utama dalam pemberangkatan dari KBRI Tripoli menuju perbatasan adalah antisipasi keamanan selama dalam perjalanan dan antisipasi persoalan dokumen keimigrasian di pintu keluar Libya. Keempat TKW kemudian diantar menuju perbatasan pada pagi hari Sabtu, dimana sudah menunggu petugas dari Tim Evakuasi KBRI Tunis yang akan menguruskan proses imigrasi mereka.

Selain 4 TKW tersebut, petugas Tim Evakuasi juga mencatat keluarnya Saida Binti Kadi, 27 tahun, Indramayu. Saida masuk ke Tunsiia lewat Ras Jedir bersama majikannya, Ali Elnass, yang akan mengungsi ke Kairo. Pada masa-masa awal proses evakuasi darat juga telah ada 4 orang TKW lainnya yang masuk ke Tunisia bersama majikan dan kemudian mengungsi ke Kairo.

Hingga saat ini, menurut data yang ada, tercatat 601 WNI telah meninggalkan Libya melalui Tunisia, dimulai dengan kedatangan rombongan TKI Ranhill pada tanggal 25 Februari 2011. Selama proses evakuasi WNI dari Libya ini, kedatangan massal WNI eks Libya ke Tunisia terjadi dua kali, yaitu pada masa awal evakuasi. Dalam dua evakuasi massal tersebut, 468 WNI berhasil diterbangkan dari Libya menuju Tunisia dengan dua pesawat Tunis Air yang dicarter oleh KBRI Tunis.
[KBRI Tunis/MYz]

Kisah Rombongan KBRI Tripoli dari Libya

KBRI Tripoli untuk sementara ditutup seba- gai antisipasi memburuknya situasi keaman- an di Libya akibat pemberlakuan “no-fly zone” oleh Dewan Keamanan PBB. Aset-aset KBRI Tripoli yang dapat diangkut dalam eva kuasi dari Tripoli dititipkan kepada KBRI Tunis, demikian rilis KBRI Tunis yang diterima Antara di London, Senin (28/3).
Sekretaris Satu Boy Dharmawan menjelaskan, KBRI Tunis ingin memastikan WNI eks- Libya yang melewati Tunisia memperoleh perlindungan, dan tidak terlunta-lunta seperti warga negara lain yang mengungsi di perbatasan Ras Jedir setelah ditelantarkan oleh  negaranya.
Rombongan pengungsi WNI tiba di Tunis Minggu malam sekitar pukul 22.00, setelah menempuh  perjalanan sekitar 1000 Km dari Tripoli.
KBRI Tunis telah membuka posko dekat perbatasan guna menjemput WNI yang mema- suki Tunisia melalui perbatasan darat. KBRI Tripoli bekerjasama dengan KBRI Tunis secara resmi telah mengeevakuasi WNI terakhir dari Libya ke Tunisia hari Minggu, 27 Maret .
Rombongan evakuasi dipimpin Sekretaris Ketiga KBRI Tripoli, Jopkie Kurniawan, terdiri atas empat staf KBRI Tripoli, dua mahasiswa, ABK kapal minyak, enam TKW, dan satu wanita bersuamikan warga Libya.
Dua mahasiswa yang dievakuasi sempat menolak keras untuk diungsikan. Setelah pro- Kaddafi kian tersudut, mereka salat istikharah dan akhirnya bersedia dievakuasi.
Rombongan evakuasi KBRI Tripoli meninggalkan Libya menggunakan empat mobil, dua mobil KBRI Tripoli dan dua mobil sewa dari Tripoli menuju kota Ras Jedir di perbatasan Tunisia-Libya.
Perjalanan rombongan KBRI Tripoli ini berlangsung menegangkan di mana untuk sampai perbatasan Ras Jedir, rombongan harus menghindari pertempuran di beberapa kota dan menempuh jalan yang dikuasai kelompok pro-Gaddafi yang menghormati kendaraan yang digunakan KBRI Tripoli.
Rombongan sempat khawatir karena dihadang 22 chek point, karena 2 dari 4 kendaraan yang digunakan adalah kendaraan transportasi non-dinas, dan salah satu kendaraan KBRI Tripoli membawa peralatan sandi rahasia yang harganya miliaran. Dalam banyak kejadian, tentara Kaddafi menyita semua alat elektronik yang mereka dapatkan dari rombongan pengungsi.
Rombongan evakuasi WNI eks-Libya dijemput langsung oleh staf KBRI Tunis di Ras Jedir untuk mempercepat proses imigrasi dan berkoordinasi dengan komandan militer di Ras Jedir.
Sejak 20 Maret lalu, KBRI Tunis telah membuka posko evakusi di kota Jerba. KBRI Tunis juga menjalin hubungan yang terus menerus dengan International Organization for Migrants (IOM), Imigrasi Tunisia dan Komandan Militer Ras Jedir, guna membantu WNI melintasi perbatasan Tunisia-Libya. [antara]


 





2 komentar:

  1. Asalamu alaikum.. nama saya Sahra, saya berasal dari kota Reog Ponorogo saya pernah bekerja sebagai seorang karyawan di salah satu restaurant di dubai. dimana saya sudah hampir kurang lebih 5 tahun lamanya saya bekerja di restaurant tersebut.

    Keinginan saya dan impian saya yang paling tinggi adalah ingin membahagiakan orang terdekat saya di kampung, namun jika hanya mengandalkan gaji yah mungkin butuh waktu yang sangat lama dimana belum biaya kontrakan dan utan yang menumpuk justru akan semakin sulit dan semakin lama impian itu tidak akan terwujud

    saya coba" buka internet dan saya lihat postingan teman di https://pesugihanputihislamia.blogspot.com. Saya buka di google dan disitulah awal kesuksesan saya sampai sekarang alhamdulillah ya allah...

    jika anda ingin mendapat jalan yang mudah untuk mendapat kesuksesan seperti saya anda tak perlu ragu. atau malu dikejar hutang lagi, Tergantung keyakinan dan kepercayaan saja. Banyak pilihan di berikan yaitu Dana Hibah, penglaris usaha dagan, dana gaib, anka gaib togel, jampi pelet, dll

    Kini saya berbagi pengalaman saja sudah saya rasakan dan buktikan sampai sekarang. Atau mungkin ada teman mau hubungi langsung beliau ini nomer WhatsApp nya 0822 9127 7145 Semoga bermanfaat. aminn...

    BalasHapus
  2. Titanium Gold - TITIAN GOLD | TITE-arts.com
    Tite winnerwell titanium stove Iron, Bronze 바카라 사이트 유니벳 or bronze in the process. apple watch 6 titanium Tite gold in the process. The process is simple: by heating the how to get titanium white octane ore, water, or titanium linear compensator fertilizer in boiling water $8.99 · ‎Out of stock

    BalasHapus