“Penyelidikan masih dilakukan dan kalau bukti sudah kuat akan kita lakukan proses hukumnya.”
"Perusahaan yang diduga melakukan pembakaran ini ada delapan perusahaan sawit Malaysia."
Balthazar sebelumnya mengatakan, saat ini ada 14
perusahaan yang diduga terlibat dalam kasus pembakaran yang telah
berlangsung lebih dari sepekan terakhir.Dia mengatakan, lembaganya saat ini juga sedang
melakukan identifikasi sejumlah perusahaan lain untuk kemudian diberi
tindakan hukum.
Balthazar mengatakan dia akan menyampaikan hasil
temuan ini kepada Menteri Lingkungan Hidup Malaysia dalam pertemuan
hari Selasa pekan depan di Jakarta. Deputi Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan
Perubahan Iklim, Arif Yuwono menambahkan dugaan keterlibatan delapan
perusahaan tersebut karena pemerintah menemukan adanya kebakaran di
lahan milik mereka.
“Faktanya itu di lapangan dan memang ada di lahan mereka,” kata Arif .Mulai buat hujan buatan
Untuk mengurangi dampak asap yang ditimbulkan
akibat kebakaran lahan dan hutan, hari ini pemerintah dibawah koordinasi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengatakan mengerahkan sejumlah
pesawat dan helikopter.
"Hingga sore ini kita akan mengerahkan tiga helikopter, satu pesawat hercules dan satu pesawat cassa ringan."
Sebagian pesawat digunakan membantu hujan buatan sebagian lagi untuk memantau keberadaan titik api di sejumlah kawasan.
“Hingga sore ini kita akan mengerahkan tiga
helikopter, satu pesawat hercules dan satu pesawat cassa ringan,” kata
Ketua BNPB Nasional Syamsul Maarif.
“Hari ini untuk melakukan water bombing (bom air) kita sasar dulu di kawasan Bengkalis dan Rokan Hilir.”
Titik api yang ada kata dia tersebar secara sporadis dan setiap titik api mempunyai luasan sekitar 10 meter persegi.
Kota Pekanbaru sendiri pada pagi hari memang terlihat berkabut akibat asap pembakaran lahan dan hutan.
Asap ini bercampur dengan gas buang kendaraan bermotor yang semakin memperburuk kualitas udara di kota itu.
Sudah terbiasa
Sejumlah warga mengatakan mereka terganggu tapi peristiwa ini sudah kerap terjadi.
“Asapnya pekat ketika pagi dan mulai menjelang
malam, kalaupun banyak yang tidak mengunakan masker karena sudah kerap
terjadi,” kata Agung seorang karyawan swasta di Pekanbaru.
“Ini sudah mengganggu. Mata sudah pedih dan beberapa hari ini asap semakin banyak,” kata Mastar.
Bagi yang mempunyai gangguan pernapasan udara seperti saat ini juga terasa menyiksa.
Upaya pemadaman dilakukan dari darat dan udara.
“Udara yang tidak segar ini mengganggu
konsentrasi belajar apalagi saya punya sedikit asma, jadi suka lemas
kalau menghirup udara pagi yang nggak segar lagi. Kita bangun pagi suka merasa bengek juga,” kata Asmadindo, mahasiswi setempat.
Namun meski kondisi kota berasap seperti ini
kerap berulang warga kota itu, tampaknya mereka bisa memakluminya dan
tidak menyalahkan penanganan pemerintah Indonesia.
“Musim kemarau seperti saat ini kebakaran hutan
memang terjadi di mana-mana tidak hanya di Indonesia tetapi juga di
Australia,” kata Asmadindo.
Kabut asap aklibat kebakaran lahan dan hutan di
Provinsi Riau bukanlah yang pertama terjadi namun dampak kali ini
dirasakan sudah mengganggu sejumlah kawasan negara tetangga seperti
Singapura dan Malaysia.
Pemerintah Singapura kemarin bahkan mengirim
menteri lingkungan hidupnya ke Indonesia untuk menanyakan komitmen dalam
penanganan asap. Hal serupa juga akan dilakukan pemerintah Malaysia pekan depan.
“Kita jelaskan yang terganggu bukan hanya warga
mereka tetapi warga kita juga dan saat ini kita telah berusaha melakukan
pemadaman baik darat dan laut kalau soal target waktu kita tidak
memastikan, ini kan peatland (lahan gambut)” kata Balthazar Kambuaya Balthazar juga mengatakan meskipun Singapura telah menawarkan bantuan namun pemerintah Indonesia merasa belum perlu.
“Kita negara besar punya kepentingan untuk menyelesaikan ini bukan menuruti kepentingan mereka.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar