Selasa, 11 Juni 2013

Peran Budaya Bagi Perdagangan Internasional

Pemahaman Budaya Penting Bagi Perdagangan Internasional

Senin, 10 Juni 2013
“People to people contact dan pemahaman budaya sangat penting dalam upaya untuk meningkatkan hubungan perdagangan internasional”, hal tersebut disampaikan oleh M. Darwis Khudori, Associate Professor pada Universitas Le Havre, Paris, dalam acara Forum Kajian Kebijakan Luar Negeri (FKKLN) yang dilaksanakan oleh Pusat Pengembangan dan Pengkajian Kebijakan Kawasan Asia Pasifik (P3K2 Aspasaf), Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri RI.

Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka untuk semakin menggugah perhatian dan kesadaran masyarakat akan arti penting Benua Afrika dalam memanfaatkan besarnya peluang ekonomi dan perdagangan bagi Indonesia.

Darwis menegaskan kembali jasa Presiden Soekarno yang dikenal sebagai Bapak dekolonialisasi bangsa Afrika karena telah memberikan inspirasi bagi kemerdekaan pada bangsa-bangsa Afrika.

Namun demikian, Indonesia saat ini tertinggal jauh dengan negara-negara berkembang lainnya karena tidak dapat menerjemahkan kesuksesan historis tersebut menjadi kerjasama ekonomi yang lebih erat seperti summit forum dengan negara-negara Afrika.

Sementara itu, Budiarto Sambazy (Wartawan Senior Surat Kabar Kompas) menyampaikan bahwa Kemitraan strategis Indonesia dan Afrika merupakan suatu keniscayaan sekaligus kebutuhan karena peluang yang sangat besar di Afrika yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangannya, mengingat benua tersebut diproyeksikan oleh berbagai kalangan akan menjadi "the world's next great growth engine."

Potensi pasar Afrika sangat besar, antara lain karena: i) memiliki 30% cadangan energi dunia; ii) kaya sumberdaya alam mineral; iii) sumber food security masa depan, karena tanah pertaniannya luas dan subur; iv) 7 dari 10 negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia berada di afrika; v) total GDP US$ 2,03 trilyun (2012); dan vi) pada tahun 2011, 50 juta jiwa (5%) penduduk Afrika tingkat pendapatannya telah meningkat menjadi kategori middle income.

Pada sesi kedua disampaikan bahwa untuk menyukseskan penetrasi ekonomi ke kawasan Afrika diperlukan perubahan ‘mindset’, baik individu, pemerintah, maupun kalangan bisnis dan media massa yang memandang benua Afrika sebagai ‘hopeless continent’ menjadi ‘hopefull continent’ dan dari ‘Afro Pesimism’ menjadi ‘Afro Optimism’.

Dalam hal ini dibutuhkan peran media masa dan dunia pendidikan untuk menyosialisasikan potensi dan peluang ekonomi dan perdagangan yang terbuka lebar di Afrika.

Sebagai penutup, beberapa hal-hal yang direkomendasikan untuk meningkatkan diplomasi Indonesia dan penetrasi pasar di Afrika antara lain: i) mengubah ikatan sejarah dan political attachment antara RI - Afrika menjadi hubungan ekonomi yang saling menguntungkan, dalam hal ini diperlukan komitmen kuat dari pemerintah untuk mencapai tujuan tersebut; ii) mengubah agar image atau stigma negatif mengenai Afrika, khususnya di kalangan pelaku bisnis; iii) memperkuat kerja sama capacity building di berbagai sektor sebagai instrumen memelihara dan memperkuat pengaruh positif RI di Afrika sekaligus menjadi gateway penetrasi ekonomi; iv) mempererat koordinasi antar Kementerian dan stakeholders untuk memastikan capaian yang ada tidak accidental dan sporadis, tetapi berkelanjutan; v) Pemerintah perlu mendorong dengan memberikan insentif bagi para pengusaha Indonesia yang akan melakukan penterasi pasar di Afrika; vi) perlunya perwakilan RI dan instansi terkait untuk melakukan market intelligence guna memahami budaya, kebutuhan pasar, dan industri di Afrika; vii) perlunya directory terkait pengusaha Indonesia agar selalu di update dari waktu ke waktu.

Acara FKKLN berjalan lancar dan mendapat apresiasi dari para peserta yang secara aktif memberikan masukan dan rekomendasi untuk pengembangan diplomasi ekonomi Indonesia di Afrika. (sumber: P3K2 Aspasaf, BPPK)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar