Survey yang diadakan oleh lembaga thinktank Lowy
Institute for International Policy untuk laporan tahun 2013 mengenai
sikap warga Australia atas negara dan kebijakan asing menemukan bahwa
kebanyakan responden menunjukkan penurunan tingkat kepercayaan mereka
atas Cina dan Indonesia tapi mendukung hubungan ekonomi antara Australia
dengan kedua negara tersebut.
48 persen mengatakan bahwa
hubungan dengan Amerika Serikat adalah yang paling penting, sedangkan 37
persen percaya hubungan dengan Cina sangat penting.
Enam puluh
satu persen percaya bahwa Cina akan melampaui Amerika Serikat sebagai
negara adidaya utama di dunia, dan 12 persen mengatakan Cina sudah
berhasil meraih hal ini.
Survey itu menemukan 41 persen responden percaya bahwa Cina akan menjadi ancaman militer bagi Australia dalam 20 tahun ke depan.
Direktur
Eksekutif Lowy Institute, Dr Michael Fullilove mengatakan perasaan
warga Australia atas Cina ini sebagai sesuatu yang signifikan.
"Warga Australia memiliki perasaan yang bercampur mengenai Cina. Beberapa positif, yang lainnya tidak terlalu positif," katanya.
"Warga
Australia secra keseluruhan mendukung pembangunan hubungan dengan
Amerika Serikat dan menduduki hubungan Australia dengan AS di atas
hubungan Australia dengan Cina.
"Mereka memiliki kecurigaan atas Cina tapi menyadari kepentingan negara tersebut untuk masa depan ekonomi Australia."
Dalam
peringkat perasaan warga Australia atas 19 negara, Cina menduduki
posisi nomor 14. Inggris Raya, Jerman, Amerika Serikat, Singapura dan
Jepang menduduki peringkat teratas sedangkan Indonesia, Israel, Myanmar
Iran dan Korea Utara di peringkat terbawah.
Australia 'ambivalen' mengenai Indonesia
Dalam perasaan mereka atas Indonesia, warga Australia yang menjadi responden mengindikasikan perasaan yang bercampur.
Diminta
untuk menilai tingkat 'kehangatan' dari 0 hingga 100 derajat (0 berarti
perasaan yang dingin dan 100 perasaan yang hangat), mereka memberi
penilaian atas perasaan atas Indonesia dengan rata-rata 53.
Penulis laporan, Alex Oliver, mengatakan hasil mengenai Indonesia ini menunjukkan tren yang stabil.
"Jajak pendapat ini menyoroti pandangan yang ambivalen atas Indonesia," katanya.
Dia juga mengatakan warga Australia tampak tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Indonesia.
Jajak pendapat itu menunjukkan hanya 33 persen responden mengetahui bahwa Indonesia adalah sebuah negara demokratis.
Dr
Fullilove mengatakan sangat mengejutkan bahwa hanya sebagian kecil
responden mengetahui bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan
demokrasi
"Tampak bahwa warga Australia belum menyerap berbagai
perubahan yang telah terjadi di Indonesia, di mana banyak perubahan
tersebut adalah perubahan baik," katanya.
Jajak pendapat itu menunjukkan perasaan atas Papua Nugini dan Fiji menurun sebanyak empat poin.
Selain
itu, dalam kebijakan luar negeri Australia, kebanyakan responden
percaya bahwa pihak koalisi oposisi mampu memiliki kebijakan luar negeri
yang lebih baik dalam bidang ekonomi, investasi, pencari suaka, aliansi
dengan Amerika Serikat dan keamanan nasional.
(Sumber: Radio Australia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar