Senin, 24 Juni 2013

33 persen warga Australia tidak percaya Indonesia negara demokrasi

Sebuah jajak pendapat atas sekitar seribu orang di Australia menujukkan bahwa warga Australia memiliki rasa hangat atas Inggris Raya, Jerman dan Amerika Serikat, tapi menilai perasaan mereka atas Cina dan Indonesia tidak terlalu hangat.
Survey yang diadakan oleh lembaga thinktank Lowy Institute for International Policy untuk laporan tahun 2013 mengenai sikap warga Australia atas negara dan kebijakan asing menemukan bahwa kebanyakan responden menunjukkan penurunan tingkat kepercayaan mereka atas Cina dan Indonesia tapi mendukung hubungan ekonomi antara Australia dengan kedua negara tersebut. 

48 persen mengatakan bahwa hubungan dengan Amerika Serikat adalah yang paling penting, sedangkan 37 persen percaya hubungan dengan Cina sangat penting.
Enam puluh satu persen percaya bahwa Cina akan melampaui Amerika Serikat sebagai negara adidaya utama di dunia, dan 12 persen mengatakan Cina sudah berhasil meraih hal ini.
Survey itu menemukan 41 persen responden percaya bahwa Cina akan menjadi ancaman militer bagi Australia dalam 20 tahun ke depan.

Direktur Eksekutif Lowy Institute, Dr Michael Fullilove mengatakan perasaan warga Australia atas Cina ini sebagai sesuatu yang signifikan.
"Warga Australia memiliki perasaan yang bercampur mengenai Cina. Beberapa positif, yang lainnya tidak terlalu positif," katanya.
"Warga Australia secra keseluruhan mendukung pembangunan hubungan dengan Amerika Serikat dan menduduki hubungan Australia dengan AS di atas hubungan Australia dengan Cina.
"Mereka memiliki kecurigaan atas Cina tapi menyadari kepentingan negara tersebut untuk masa depan ekonomi Australia."
Dalam peringkat perasaan warga Australia atas 19 negara, Cina menduduki posisi nomor 14. Inggris Raya, Jerman, Amerika Serikat, Singapura dan Jepang menduduki peringkat teratas sedangkan Indonesia, Israel, Myanmar Iran dan Korea Utara di peringkat terbawah.

Australia 'ambivalen' mengenai Indonesia

Dalam perasaan mereka atas Indonesia, warga Australia yang menjadi responden mengindikasikan perasaan yang bercampur.
Diminta untuk menilai tingkat 'kehangatan' dari 0 hingga 100 derajat (0 berarti perasaan yang dingin dan 100 perasaan yang hangat), mereka memberi penilaian atas perasaan atas Indonesia dengan rata-rata 53. 
Penulis laporan, Alex Oliver, mengatakan hasil mengenai Indonesia ini menunjukkan tren yang stabil.
"Jajak pendapat ini menyoroti pandangan yang ambivalen atas Indonesia," katanya.
Dia juga mengatakan warga Australia tampak tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Indonesia.
Jajak pendapat itu menunjukkan hanya 33 persen responden mengetahui bahwa Indonesia adalah sebuah negara demokratis.
Dr Fullilove mengatakan sangat mengejutkan bahwa hanya sebagian kecil responden mengetahui bahwa Indonesia adalah negara yang berdasarkan demokrasi
"Tampak bahwa warga Australia belum menyerap berbagai perubahan yang telah terjadi di Indonesia, di mana banyak perubahan tersebut adalah perubahan baik," katanya.
Jajak pendapat itu menunjukkan perasaan atas Papua Nugini dan Fiji menurun sebanyak empat poin. 
Selain itu, dalam kebijakan luar negeri Australia, kebanyakan responden percaya bahwa pihak koalisi oposisi mampu memiliki kebijakan luar negeri yang lebih baik dalam bidang ekonomi, investasi, pencari suaka, aliansi dengan Amerika Serikat dan keamanan nasional.
(Sumber: Radio Australia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar