Diperbaharui 14 June 2013, 14:52 AEST
Sebelumnya pada tahun ini, Australian Broadcasting Corporation
(ABC) mengungkapkan tuduhan para saksi mata bahwa militer Thailand
menembaki pengungsi Rohingya yang tiba dengan kapal di daratan Thailand.
Kini
ABC melacak pengungsi Rohingya di Malaysia yang menyatakan bahwa mereka
dicegat, dipukuli dengan kejam dan kemudian dijual kepada jaringan
perdagangan manusia oleh militer Thailand.
Kisah pengungsi Rohingya Zafar Ahmad sangat menyedihkan dan banyak dialami oleh pengungsi Rohingya lainnya.
Ia
melarikan diri dari kerusuhan antar-agama di Myanmar barat, tapi dalam
perjalanan ke Malaysia kapalnya dicegat oleh Angkatan Laut Thailand.
"Angkatan
Laut menahan kami dan membawa kami ke sebuah pulau, mereka membawa kami
ke hutan, kemudian mengambil pakaian kami sehingga kami hanya
mengenakan pakaian dalam .... Mereka memukuli kami dan bertanya mengapa
kami datang ke negara itu," katanya.
"Beberapa hari kemudian, sebuah kapal lainnya tiba dan orang-orangnya bergabung dengan kami."
Ahmad
mengatakan, kedua kapal itu diambil mesinnya, dan berdasarkan kebijakan
"menghalau" Angkatan Laut Thailand, lebih dari 200 penumpang kemudian
disuruh naik kembali ke kapal, ditarik ke laut dan ditinggalkan.
Satu
kapal nampaknya berhasil mencapai Sri Lanka. Kedatangan mereka menjadi
headline karena 96 orang meninggal dalam perjalanan akibat kekurangan
makanan dan air.
Pada waktu kapal Ahmad kembali ke Thailand,
ditarik oleh sebuah kapal nelayan, 12 orang sudah meninggal. Mereka yang
tersisa kemudian dijual oleh penduduk desa.
Penduduk Muslim Thai memberi kami makan ketika kami di hutan, tapi setelah itu mereka menjual kami," katanya.
Tudingan AL Thailand menembak mati pencari suaka
Puluhan
ribu orang telah tergusur oleh kerusuhan antara umat Budhist dan Muslim
di negara bagian Rakhine, Myanmar, dan banyak yang berhasil mencapai
Malaysia melalui Thailand.
ABC sebelumnya mengungkapkan dugaan
bahwa Angkatan Laut Thailand melepaskan tembakan dan paling tidak dua
pencari suaka Rohingya tewas setelah kapal mereka dicegat di lepas
Phuket.
Angkatan Laut Thailand membantah menembaki orang yang terjun ke laut dan berenang ke darat, dan juga membantah tudingan lebih jauh bahwa Angkatan Laut menjual orang-orang Rohingya yang tertangkap kepada jaringan perdagangan manusia.
Tapi kini ABC telah melacak sejumlah lagi pria Rohingya yang mengeluarkan pernyataan serupa tentang perdagangan manusia.
Angkatan Laut Thailand membantah menembaki orang yang terjun ke laut dan berenang ke darat, dan juga membantah tudingan lebih jauh bahwa Angkatan Laut menjual orang-orang Rohingya yang tertangkap kepada jaringan perdagangan manusia.
Tapi kini ABC telah melacak sejumlah lagi pria Rohingya yang mengeluarkan pernyataan serupa tentang perdagangan manusia.
"Angkatan
Laut memukuli saya sepanjang malam. Kemudian saya diserahkan kepada
beberapa orang Thai pada pagi harinya. Saya banyak dipukuli," kata pria
Rohingya, Nurul Amin.
"Saya kemudian diserahkan lagi kepada jaringan pedagang manusia dan mereka memukuli saya hampir 12 kali."
Seorang pria lainnya, An Sarrulla, mengisahkan cerita serupa.
"Angkatan
Laut memperbolehkan kami ke pantai, mereka berbicara bahasa Thai, saya
tidak mengerti. Kami minta makanan, saya tidak tahu apakah mereka
mengerti, tapi mereka malah memukuli kami," katanya.
Amin dan Sarulla adalah pendatang baru di Malaysia.
Amin dan Sarulla adalah pendatang baru di Malaysia.
Jika
benar, ini menegaskan bahwa perdagangan manusia yang melibat Angkatan
Laut Thailand masih terus terjadi, meskipun pihak berwenang Thailand
lagi-lagi membantah.
Pada bulan Maret, Perdana Menteri Thailand
Yingluck Shinawatra menjanjikan penyelidikan tentang perlakuan terhadap
para pengungsi Rohingya oleh Angkatan Laut Thailand.
Sepengetahuan ABC, tidak pernah ada penyelidikan mendalam yang dilakukan.
(sumber: Radio Australia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar