Sebagai tanggapan atas laporan utama majalah Time, Presiden Thein Sein menuduh majalah itu merongrong upaya pemerintah Klik
Burma untuk membangun rasa saling percaya atas berbagai agama.
Seorang biksu, Ashin Wirathu,
menjadi berita sampul majalah terbitan Amerika Serikat yang beredar di
seluruh dunia itu dengan judul Wajah Teror Burma.
Wartawan BBC untuk kawasan Asia Tenggara,
Jonathan Head, melaporkan Presiden Thein Sein menyebut Wirathu sebagai
anggota dari ordo yang terdiri dari orang-orang luhur yang
memperjuangkan perdamaian dan kesejahteraan.
Gambaran tersebut amat kontras dengan pernyataan
biksu itu sendiri, yang menyebut Islam sebagai momok yang mengancam
karakter Burma dan oleh karena itu harus dirobek-robek.
Dalam rangkaian kekerasan sekatrian di Burma,
sejumlah pihak juga menuding pemerintah Burma tidak berbuat banyak untuk
mencegah berkembangnya sentimen anti-Muslim.
Makin terkenal
Sepanjang setahun belakangan, kekerasan akibat sentimen anti-Muslimdi Burma telahKlik
menyebabkan tewasnyaKlik
200 orang dan belasan ribu warga terpaksa meninggalkan rumahnya, karena rumah mereka dibakar maupun untuk menyelamatkan diri.
Ashin Wirathu awalnya merupakan biksu yang tidak
diketahui masyarakat umum namun wajah biksu yang kecil namun karismatik
ini belakangan menjadi yang paling dikenal di Burma dan tampaknya
semakin terkenal lagi setelah terpajang di majalah Time.
Presiden Thein Sein sebelumnya mengecam serangan atas umat Muslim dan berjanji untuk mengendalikan kekerasan sektarian.
Namun sentimen anti-Muslim dari Wirathu mendapat
dukungan dari mayoritas umat Buddha dan pihak berwenang sudah menangkap
ratusan umat Muslim yang terlibat dalam kekerasan namun hanya beberapa
umat Buddha yang ditangkap.
Pertengahan Juni, Klik
pengadilan Burma menjatuhkan hukuman 26 tahunKlik
penjara terhadap seorang pria Muslim karena menyerang seorang wanita Buddha, insiden yang kemudian memicu rangkaian kekerasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar