Jumat, 30 Agustus 2013

France Ready To Punish Syria Despite British No Vote


PARIS | Fri Aug 30, 2013 10:18am EDT
 
Ake Sellstrom (C, wearing cap), the head of a U.N. chemical weapons investigation team, arrives at Yousef al-Azma military hospital in Damascus August 30, 2013. REUTERS/Khaled al-Hariri
Reuters's Photo
(Reuters) - France said on Friday it still backed action to punish Syrian President Bashar al-Assad's government for an apparent poison gas attack on civilians, despite a British parliamentary vote against a military strike.  

An aide to Russian President Vladimir Putin, a close Assad ally, seized on Thursday's British "no" vote which set back U.S.-led efforts to intervene against Assad, saying it reflected wider European worries about the dangers of a military response.

U.S. Defense Secretary Chuck Hagel said his country would keep seeking an international coalition to act together on Syria, where hundreds of people were killed in last week's reported chemical attacks. Syria denies using chemical weapons.

Rabu, 28 Agustus 2013

Bila WTS Merasa Tekor Luar dan Dalam


nah-subSAAT “kerja” di Wisma Barbara kompleks Dolly, penghasilan Rima, 25, rata-rata sebulan Rp 5 juta. Tapi setelah keluar dan dikumpulkeboi pangacara Sagimun, 40, jusru tak diberi uang. Merasa tekor luar dalam, Rima mantan WTS itu ingin kembali ke habitat lama. Eh, malah dilaporkan pengacara itu ke polisi, hingga urusan sampai pengadilan.
WTS kini disebut pula PSK (Pekerja Seks Komersil), karena dia memang sangat komersil dalam profesinya. Sekali goyang harus dapat pula uang. Tak ada istilah harga promosi atau pelayan cuma-Cuma. Maka sering terjadi, WTS yang sudah dikawin lelaki hidung belang, pilih kembali ke habitat lama gara-gara tidak lagi pegang uang banyak.
Salah satu WTS yang ingin kembali ke jalan salah adalah Rima, yang duku pernah jadi “bintang”-nya Wisma Barbara, komplek Dolly Surabaya. Masalahnya, jadi wanita baik-baik keuangannya malah tidak membaik. Soalnya, Sagimun yang mengangkatnya dari lembah hitam, ternyata tak menjadikannya sebagai istri, melainkan hanya dijadikan teman kumpul kebo. “Dia mau ngirit, saya yang keplirit.” Keluh Rima.
Sekitar setahun lalu, Rima termasuk kembang dam bintangnya Wisma Barbara di kompleks Dolly. Di banding pramusyahwat yang lain, dia merupakan yang paling cantik dan seksi, bahkan ada yang menyebut Maria Ozawa-nya Wisma Barbara. Praktis dia paling banyak pelanggannya, sehingga lelaki hidung belang yang butuh pelayanan Rima harus ngantri meski belum sepanjang antrian Balsem bagi orang miskin.
Salah satu pelanggannya adalah Sagimum, seorang pengacara muda meski namanya belum setenar OC Kaligis atau Juniver Girsang. Yang jelas, dengan profesi itu dia punya duit banyak, sehingga mampu memanjakan urusan syahwatnya. Pada hari-hari tertentu dia mengunjungi Wisma Barbara dan kencan bersama Rima.
Rupanya pengacara itu kadung jatuh cinta pada Rima yang kadung menjadi milik publik. Dia ingin memonopolinya, yang bahasa politiknya: ingin menaikkan d harkat dan martabat Rima sebagai anak manusia. Dengan membayar Rp 10 juta kepada germonya, Rima boleh keluar dari Dolly dan dibawa pergi Sagimun. Janjinya sih mau dikawin resmi sebagai istri.
Ternyata, sebagai pengacara Sagimun telah melakukan wanprestasi, alias ingkar janji. Rima tak dinikah resmi, kecuali hanya dikumpulkeboi di rumah kos-kosan. Jika diberi pekerjaan, hanya dijadikan sekteraris di kantor pengacara milik Sagimun. Padagal tugasnya yang baku, selain melayani klien Rima harus melayani nafsu sang pengacara kapan saja. Yang namanya uang atau gaji bulanan tak pernah ada lagi.
Sebagai PSK yang benar-benar komersil, Rima benar-benar merasa rugi luar dalam. Saat di dalam (Wisma Barbara) sebulan penghasilannya Rp 5 juta netto, sedangkan ikut Sagimun benar-benar hanya disuruh mamah dan mlumah. Karena dia menuntut segera nikah tak ditanggapi, terpaksa dia kabur dan kembali ke habitat lama. Sejumlah barang pemberian pengacara itu dibawa serta.
Dasar pengacara, ada saja celah-celah hukum yang digunakan. Sagimun segera melaporkan Rima ke polisi dengan pasal pencurian. Akhirnya kini Rima benar-benar duduk di kursi terdakwa di PN Surabaya. Dalam keterangannya pada mejelis hakim PSK cantik itu menuntut, jika dirinya sampai masuk penjara, dia juga akan menutut agar segala “kenikmatan” yang pernah diberikan pada Sagimun dikembalikan lagi. “Saya sekian lama tekor Pak.” Katanya.
Jadi pilih mau kembali ke jalan sesat? (SP/Gunarso TS)

Asli Cintanya, Palsu Mahar Uangnya


NID-16 JuliSEBAGAI calon mantu, Maskuri, 47, lumayan “kreatif” juga. Tak ada uang untuk mahar perkawinan, cukup mencetak sendiri lewat komputer. Untung sebelum dibayarkan kepada calon mertoku, sudah tercium polisi. Kini Maskuri gagal membayangkan indah dan serunya malam pertama.
Dalam kondisi kepepet, orang suka berbuat nekad dan untung-untungan. Kadang bisa sukses dan terbebas dari belenggu masalah. Tapi yang sering terjadi justru masalah tersebut menjadi lebih bermasalah. Sebab diakui atau tidak, dewasa ini yang bisa menyelesaikan masalah tanpa bermasalah, itu hanya monopoli Kantor Pegadaian!
Lelaki kepepet yang kemudian main untung-untungan salah satunya Maskuri, warga Jalan Panjaitan Perum Tapis Desa Jone, Kecamatan Tanah Gerogot,  Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. Di kala kantong bokek kok ditantang calon mertua untuk segera menikah, ditempuhlah cara-cara tidak terpuji. Padahal hasilnya, justru duda kesepian itu gagal mempersunting dara idaman karena harus berurusan dengan polisi.
Maskuri memang lelaki malang. Di kala jadi pengangguran, statusnya berubah jadi duda pula. Istrinya dulu minta cerai juga karena statusnya yang nganggur itu. Tapi sebagai lelaki normal, melihat fustun-fustun (baca: wanita cantik) di jalan-jalan, tentu kepengin juga. Tapi mana mau perempuan dinikahi lelaki tanpa kerjaan, sehingga akhirnya hanya “dikerjain” melulu?
Tapi Maskuri tak kehabisan akal. Dengan mengaku bekerja di PT Tempo  – maksudnya tempo-tempo kerja, tempo-tempo tidak– dia berhasil meyakinkan seorang janda muda dan siap jadi istrinya. Seringkali dia ngapeli cewek itu ke rumahnya, diajak jalan-jalan pula. Sebagai orangtua si gadis, tentu saja tak rela jika anaknya hanya ditenteng ke sana kemari tanpa tujuan jelas.
Belum lama ini Maskuri ditantang ayah Fatma, 33, tentang keseriusan hubungan tersebut. Jika memang tujuannya untuk membentuk keluarga sakinah yang mawadah warahmah, seyogyanya Fatma segera dinikah secara resmi. “Kapan nak Maskuri siap melamar putriku?” kata calon mertoku. Takut ketahuan siapa dirinya yang sebenarnya, Maskuri pun menjawab mantap, “Bulan depan kami siap nikah.”
Padahal, pulang dari rumah calon mertoku, Maskuri langsung panas dingin dan panas dalam pula. Mau minta tolong Dedy Mizwar, orangnya sudah sibuk jadi Wagub Jabar. Terpaksa dia memeras otak, bagaimana caranya agar segera terbebas dari tantangan calon mertua. Begitu ingat di rumah ada komputer dan alat scannya sekalian, Maskuri langsung tertawa lebar.
Di kamarnya, uang ratusan selembar miliknya lalu discan dan kemudian diolah lewat program photoshop-7.  Setelah diatur sedemikian rupa, uang hasil scan itu berhasil dicetak warna dan bolak-balik dalam kertas HVS. Dia pun segera ngeprint-nya banyak-banyak sampai lebih dari 140 lembar yang “bernilai” Rp 14 juta. Untuk sekedar mengetes, selembar uang itu dibelanjakan di warung tetangga, ternyata sukses bahkah dapat uang kembalian yang asli.
Padahal gara-gara ulah Maskuri, pemilik warung lapor ke polisi dan langsung diadakan penyergapan. Rupanya Maskuri tak menyangka secepat itu akal-akalannya ketahuan. Buru-buru dia membuang barang bukti uang palsu itu lewat jendela. Padahal di luar polisi sudah mengepungnya. Tanpa perlawanan, Maskuri ditangkap dan digelandang ke Polsek Tanah Grogot.
Cara pemalsuan Maskuri memang primitif sekali, karena upal (uang palsu) itu langsung luntur saat terkena air. Dalam pemeriksaan dia mengakui, nekad berbuat seperti itu karena terdorong dikejar-kejar calon mertua untuk segera menikah. “Tak punya uang untuk mahar, terpaksa saya nyetak sendiri,” katanya polos.
Kaco, Maskuri mau berlagak Peruri. (JPNN/Gunarso TS)

Cinta Sembilan Malam Duda Beranak Tiga

nah-subCINTA hanya satu malam saja mengasyikkan (baca: enak lagunya), apa lagi cinta sampai 9 malam, sudah pasti semakin menghanyutkan. Ini benar-benar dialami oleh duda beranak 3 Bahrun, 43, dari Aceh. Cuma karena semua tanpa restu orangtua sigadis, urusan pun memanjang sampai polisi.

“Betapa indahnya cintaku di saat itu, dalam pelukannya dalam belaiannya aku tlah terlena……” Begitu sepenggal lirik lagu “Cintaku hanya semalam” yang dinyanyikan oleh Melliya. Lagunya memang lincah dan enak, sehingga hal ini mungkin mengilhami Bahrun, warga Desa Panggoi, Lhokseumawe (Aceh). Pikir dia kemudian, cinta hanya semalam saja sangat mengasyikkan, apa lagi cinta yang beberapa malam, tentu lebih seru dan menggebu-gebu. Kalau pinjam istilah orang Jawa, pasti gemak lonteng-lonteng, krasa penak ndengkeng-ndengkeng (saking enaknya sampai menggeliat-geliat).
Bahrun memang lelaki kesepian, atau jomblo menurut istilah kekinian. Maklumlah, dalam usia puber kedua dia justru menyandang status duda. Tak jelas dia duda cerai atau ditinggal mati. Yang pasti, gara-gara status barunya tersebut Bahrun setiap malam tidur kedinginan, tanpa kegiatan signifikan seperti biasanya. Ingin sebenarnya dia nikah lagi. Tapi karena sudah punya buntut 3 biji, hal itu membuat sejumlah gadis yang diincarnya jadi melengos. Apa lagi pekerjaan Bahrun hanya sopir angkot L-300.

Oknum Polisi itu Sembunyi Setelah 'Menembak'

nah-subKENAPA seorang polisi sembunyi, apa takut ditembak teroris? Bukan! Ipda Sandiman, 40, justru sembunyi karena “menembak” bini orang. Bidan yang ditembaknya sih senang-senang saja, tapi warga Bantul sebagai tetangga tak terima, sehingga mereka menggerebeknya ramai-ramai.

Polisi itu pelindung masyarakat, sehingga rakyat merasa aman dari tindak kejahatan. Sayangnya, meski mereka bertaruh nyawa tetapi gajinya kecil. Kalau ada polisi bergaji besar, itu mereka yang berpangkat perwira tinggi, apa lagi yang punya rekening gendut. Maka Wakapolri Komjen Ugroseno sampai memberi solusi, jika ingin kaya sebaiknya keluar dari Polri.

Pasangan Setia Meninggal Bersama

knapkeSepasang suami istri lanjut usia di Ohio, Amerika Serikat, meninggal hanya berselang 11 jam dari pasangannya setelah menikah selama hampir 66 tahun, tulis sebuah media AS. Pasangan ini meninggal di rumah jompo yang mereka tempati bersama.
Harold dan Ruth Knapke, yang memulai pacaran melalui surat-menyurat pada saat Perang Dunia II, meninggal 11 Agustus silam.

"Saya rasa kami semua setuju bahwa ini bukanlah suatu kebetulan," kata Carol Romie, salah satu dari enam orang anak pasangan ini kepada ABC News.

Adalah sang istri, Ruth Knapke, 89, yang pertama jatuh sakit. Tetapi kemudian, Harold, 91, meninggal terlebih dulu. Mereka kemudian dikuburkan bersama.
Anak-anak mereka mengatakan kepada koran lokal Dayton Daily News bahwa ini adalah "tindakan akhir cinta mereka."
"Kami percaya ayah ingin menemani ibu di kehidupan selanjutnya, dan dia benar-benar melakukannya," kata Margaret Knapke.

Semasa mudanya, Harold adalah seorang guru, pelatih dan direktur atletik di sekolah Fort Recovery, Ohio. Sementara Ruth Knapke bekerja sebagai sekretaris di sekolah yang sama setelah lama menjadi ibu rumah tangga untuk membesarkan anak-anak mereka, kata ABC News.
Prosesi pemakaman bersama ini diadakan di depan rumah tempat mereka pernah membesarkan keluarganya.
Pemilik rumah saat ini bahkan mengibarkan bendera setengah tiang untuk menghormati pasangan ini.
Perayaan pernikahan yang ke-66 sedianya diadakan pada 20 Agustus lalu. Tetapi pasangan ini memilih merayakannya di alam lain.
(sumber: BBC Indonesia)

Jamenei dice que una intervención de EEUU en Siria sería un desastre


El líder supremo iraní, el ayatolá Ali Jamenei, dijo el miércoles que una intervención de Estados Unidos en Siria sería "un desastre para la región", según la agencia estatal de noticias ISNA, mientras las potencias occidentales elaboran planes para atacar Damasco por un ataque con armas químicas. En la imagen, el ayatolá Ali Jamenei en una fotografía de archivo de mayo de 2011 en Teherán. REUTERS/Khamenei.ir/HandoutDUBÁI (Reuters) - El líder supremo iraní, el ayatolá Ali Jamenei, dijo el miércoles que una intervención de Estados Unidos en Siria sería "un desastre para la región", según la agencia estatal de noticias ISNA, mientras las potencias occidentales elaboran planes para atacar Damasco por un ataque con armas químicas.
Después de apoyar los levantamientos en varios países de Oriente Próximo y el norte de África en 2011 como ejemplos de lo que Jamenei calificó del despertar islámico, Teherán ha apoyado de manera cada vez más resuelta al presidente laico Bashar el Asad, su principal aliado estratégico en Oriente Próximo, contra una rebelión que nació hace dos años y medio. "La intervención de América será un desastre para la región. La región es como un polvorín y el futuro no se puede predecir", citó la agencia a Jamenei.

Le G20 prudent face à la finance parallèle


Les dirigeants du G20 s'apprêtent à opter pour une réglementation a minima des activités bancaires parallèles, pourtant tenues en partie responsables de la crise financière de 2008, de peur de tarir les flux financiers et de compromettre la stabilisation de l'économie mondiale. Le 'shadow banking', qui recouvre un ensemble disparate d'intermédiaires réalisant quelque 60.000 milliards de transactions financières par an, soit l'équivalent de la richesse produite dans le monde chaque année, demeure une source de risque systémique. /Photo d'archives/REUTERS/Brendan McDermidLONDRES (Reuters) - Les dirigeants du G20 s'apprêtent à opter pour une réglementation a minima des activités bancaires parallèles, pourtant tenues en partie responsables de la crise financière de 2008, de peur de tarir les flux financiers et de compromettre la stabilisation de l'économie mondiale.

Le système bancaire parallèle, le 'shadow banking' qui recouvre un ensemble disparate d'intermédiaires réalisant quelque 60.000 milliards de transactions financières par an, soit l'équivalent de la richesse produite dans le monde chaque année, demeure une source de risque systémique.
Ces intermédiaires, qui regroupent les fonds à effet de levier (hedge funds), les fonds monétaires et les promoteurs de fonds structurés, financent le secteur financier mais contrairement aux banques et autres acteurs traditionnels, ils n'ont pas accès au refinancement des banques centrales et ne sont pas couverts par des systèmes de garantie.

Le Premier ministre britannique David Cameron annonce que le Royaume-Uni a rédigé un projet de résolution condamnant les attaques chimiques du régime syrien qui sera présentée mercredi au Conseil de sécurité des Nations unies. /Photo prise le 27 août 2013/REUTERS/Stefan Wermuth(Reuters) - Le Royaume-Uni a rédigé un projet de résolution condamnant les attaques chimiques du régime syrien qui sera présentée mercredi au Conseil de sécurité des Nations unies, annonce le Premier ministre britannique David Cameron dans un communiqué.
Le projet de résolution autorise les mesures nécessaires pour protéger les civils contre les armes chimiques, précise le chef du gouvernement britannique sur Twitter.
 
"Le Royaume-Uni a rédigé un projet de résolution condamnant l'attaque à l'arme chimique d'Assad et autorisant les mesures nécessaires pour protéger les civils", déclare David Cameron.
"Nous avons toujours dit que nous voulions que le Conseil de sécurité de l'Onu prenne ses responsabilités sur la Syrie. Aujourd'hui, il a l'occasion de le faire", ajoute le Premier ministre.
Une attaque présumée au gaz toxique survenue mercredi dernier en plusieurs points de la plaine de la Ghouta aux environs de Damas aurait fait plusieurs centaines de morts.
Auparavant, le secrétaire britannique au Foreign Office William Hague avait déclaré que la sécurité de la Grande-Bretagne serait menacée en cas d'inaction contre le gouvernement syrien.
"Nous devons procéder de façon prudente et réfléchie, mais nous ne pouvons permettre que notre propre sécurité soit compromise par la normalisation rampante de l'utilisation d'armes que le monde a passé des décennies à essayer de contrôler et d'éradiquer", écrit William Hague dans une tribune pour Daily Telegraph.
Danielle Rouquié pour le service français

Kreditvergabe der Banken schrumpft abermals

Mittwoch, 28. August 2013, 11:55 Uhr


Frankfurt (Reuters) - Die seit Monaten andauernde Kreditklemme hat Südeuropa weiter fest im Griff. Wie die Europäische Zentralbank (EZB) am Mittwoch in Frankfurt mitteilte, sank die Kreditvergabe der Banken in der Euro-Zone an Firmen und Privathaushalte im Juli abermals stark. Die Summe der Ausreichungen der Banken schrumpfte demnach um 1,9 (Juni: 1,6) Prozent zum Vorjahresmonat. Analysten hatten ein Minus von 1,6 Prozent vorausgesagt. Bereinigt um Effekte aus dem Weiterverkauf von Krediten und Verbriefungen lag das Minus bei 1,4 Prozent und war damit so hoch wie noch nie seit der Einführung des Euro.
 
Besonders stark fielen die Kredite an Unternehmen, die im Jahresvergleich um 3,7 (Juni: 3,2) Prozent nachgaben. Da wegen der ultralockeren Geldpolitik der EZB nach wie vor sehr viel Liquidität im Finanzsystem zirkuliert, dürfte dies wie bereits in den Vormonaten an der geringen Kreditnachfrage der Firmen in den weiter in der Rezession gefangenen Ländern am Rand der Euro-Zone liegen. Die EZB entscheidet kommende Woche das nächste Mal über ihren geldpolitischen Kurs. Die Notenbank hat angekündigt, den Leitzins "für einen längeren Zeitraum" bei rekordniedrigen 0,5 Prozent zu belassen oder bei Bedarf sogar noch weiter zu senken, womit wenigstens im September aber niemand rechnet.
Michael Schubert von der Commerzbank führt die aus seiner Sicht "wieder einmal enttäuschenden" Zahlen nicht auf ein zu knappes Angebot der Banken zurück, wenngleich auch diese wegen der Krise weiter ihre Bilanzen bereinigten. Der Ökonom geht nicht davon aus, dass der EZB viele Möglichkeiten bleiben, gegen die Kreditklemme vorzugehen. "Da es keinen Liquiditätsmangel gibt, wäre ein weiteres langfristiges Refinanzierungsgeschäft der EZB mit den Instituten (LTRO) ein stumpfes Schwert."

WIRTSCHAFTSERHOLUNG OHNE KREDITE
Auffallend ist, dass trotz seit Monaten stetig steigender Stimmungsindikatoren die besser werdenden Perspektiven bei vielen Unternehmen und Banken in den südlichen Euro-Ländern nach wie vor nicht ankommen. Rainer Sartoris vom Düsseldorfer Bankhaus HSBC Trinkaus & Burckhardt hofft trotzdem, dass sich auch die Kreditvergabe wegen der Aussichten auf eine Stabilisierung der Konjunktur in den nächsten Monaten festigen wird. "Ermutigend ist das aktuell alles nicht, aber es zeichnet sich wenigstens nicht ab, dass wir zu einem freien Fall übergehen."
Christian Schulz von der Berenberg-Bank sieht das ähnlich: "Wir sehen eine Erholung der Wirtschaft ohne Kredite. Während die Realwirtschaft die Kehrtwende vollzieht, wird das nicht unterfüttert durch Kredite. Das wird sich zu einem späteren Zeitpunkt aber ändern." Argumente für eine Zinssenkung seien für die EZB aus den Daten gegenwärtig jedenfalls nicht ableitbar: "Die Konjunktur zieht ganz klar an."
Das Wachstum der für die Zinspolitik der EZB ebenfalls wichtigen Geldmenge M3 lag bei 2,2 (2,3) Prozent - ein recht geringer Wert. Im gleitenden Dreimonatsdurchschnitt (April bis Juni) erhöhte sich M3 um 2,5 (2,8) Prozent. M3 umfasst unter anderem Bargeld, Einlagen auf Girokonten, kurzfristige Geldmarktpapiere sowie Schuldverschreibungen mit bis zu zwei Jahren Laufzeit. Eine stark wachsende Geldmenge signalisiert eine potenzielle Inflationsgefahr.

 

US Generalsekretär Warnt vor Schnellem Syrien - Angriff


U.N. Secretary-General Ban Ki-moon addresses the audience at the Peace Palace in The Hague August 28, 2013. Ban Ki-moon is in The Hague to attend the celebrations for the 100th anniversary of the Peace Palace. REUTERS/Michael Kooren (NETHERLANDS - Tags: POLITICS ANNIVERSARY) - RTX12YN3Amman/Washington (Reuters) UN-Generalsekretär Ban Ki-Moon fordert angesichts des drohenden Militärschlags gegen Syrien mehr Zeit zur Untersuchung des mutmaßlichen Giftgasangriffs. Die UN-Waffeninspektoren vor Ort müssten die Faktenlage sorgfältig klären, betonte er am Mittwoch in Den Haag mit Blick auf die USA und Großbritannien, die eine rasche Reaktion auf den Gasangriff für nötig halten, sollte sich dieser bestätigen. Davon ist zumindest US-Vize-Präsident Joe Biden bereits überzeugt: "Es gibt keinen Zweifel daran, wer für diesen abscheulichen Einsatz von Chemiewaffen verantwortlich ist: Das syrische Regime", erklärte er am Dienstagabend.

Großbritannien trieb ungeachtet des Widerstands der Vetomächte Russland und China im UN-Sicherheitsrat die Vorbereitungen für einen möglichen Militärschlag voran. Premierminister David Cameron kündigte einen Resolutionsentwurf an, in dem die Angriffe von Syriens Präsidenten Baschar al Assad verurteilt und "notwendige Maßnahmen" gefordert werden. Russland und China lehnen allerdings einen Militärschlag ab. Die Regierung in Moskau sieht darin die Gefahr der Destabilisierung der gesamten Region.

In Washington erklärte Biden jedoch, wer wehrlose Männer, Frauen und Kinder mit Chemiewaffen angreife, müsse zur Verantwortung gezogen werden. Die USA machten jedoch deutlich, dass es bei einem Militärschlag gegen Syrien nicht darum gehe, die Regierung von Assad zu stürzen. "Es geht um eine Antwort auf eine klare Verletzung internationaler Standards, die den Einsatz chemischer Waffen verbieten", erläuterte US-Präsidentensprecher Jay Carney. Kreisen zufolge ist mit einem Militärschlag binnen weniger Tage zu rechnen. Australien kündigte an, die USA auch ohne Mandat der Vereinten Nationen unterstützen zu wollen.
Bundesaußenminister Guido Westerwelle sagte, sollte sich der Einsatz von Chemiewaffen bestätigen, "wird Deutschland zu denjenigen gehören, die Konsequenzen für richtig halten". In der "Neuen Zürcher Zeitung" warnte er aber zugleich vor einem regionalen Flächenbrand. Es sei wichtig, "alle Entscheidungen genau abzuwägen, nicht nur danach, was gerade kurzfristig geboten erscheint, sondern danach, was am Ende auch den Menschen in Syrien, dem Frieden und der Stabilität in der gesamten Region wirklich dient."
Der Iran, der an der Seite Assads steht, warnte wie Russland vor Folgen weit über die syrischen Landesgrenzen hinaus, sollten westliche Staaten die syrische Armee angreifen. "Eine Intervention von Amerika wird in ein Desaster für die gesamte Region münden", sagte das geistliche Oberhaupt Ayatollah Ali Chamenei nach einem Bericht der staatlichen iranischen Nachrichtenagentur INSA. Die Region gleiche einem Pulverfass.
UN-INSPEKTEURE UNTERSUCHEN VOR ORT MUTMASSLICHEN GASANGRIFF
Derzeit befinden sich Chemiewaffenexperten der Vereinten Nationen in Damaskus, um den mutmaßlichen Angriff zu untersuchen, bei dem am Mittwoch vergangener Woche nach Rebellenangaben Hunderte Menschen starben. Sie fuhren am Mittwoch ein zweites Mal in die Vororte der Hauptstadt, die nach Oppositionsangaben mit Raketen beschossen worden waren, die mit dem Nervengas Sarin oder ähnlichem bestückt waren.
Bei einem Treffen des oppositionellen Syrischen Nationalkoalition mit Vertretern von elf Ländern sei ein Militärschlag binnen weniger Tage angekündigt worden, hatte ein Teilnehmer der Nachrichtenagentur Reuters am Dienstag gesagt. Der genaue Zeitpunkt dafür ist unklar. Vorher dürfte noch ein US-Geheimdienstbericht veröffentlicht werden, aus dem hervorgehen dürfte, dass die Regierung in Damaskus für den Angriff verantwortlich ist. Damit ist nach Angaben eines US-Regierungsvertreters noch in dieser Woche zu rechnen. "Die Uhr tickt, und die Regierung wird sie nicht zulange ticken lassen", sagte Adam Schiff, demokratisches Mitglied des Geheimdienstausschusses im US-Repräsentantenhaus.
Die USA erwägen Angriffe mit Marschflugkörpern gegen syrische Ziele. US-Präsident Barack Obama habe aber noch keine Entscheidung über einen Angriff getroffen, sagte sein Sprecher. Der britische Premierminister Cameron berief für Donnerstag das Parlament ein, um über das Thema zu beraten. Ein Militärschlag sei auf spezifische Ziele begrenzt, sagte er.
Syriens Regierung kündigte an, sich gegen einen Militärschlag zu wehren. "Wir haben die Möglichkeiten, uns zu verteidigen, und wir werden sie mit diesen überraschen, falls nötig", sagte Außenminister Walid al-Mualem. "Wir werden nicht zögern, alle möglichen Mittel einzusetzen." Allerdings reagierten die Streitkräfte nicht oder kaum auf drei israelische Luftschläge gegen mutmaßliche Waffenlieferungen des Iran an die libanesische Hisbollah.
 

West Prepares to Strikes in Syria

A convoy of U.N. vehicles carrying a team of United Nations chemical weapons experts and escorted by Free Syrian Army fighters (vehicle on left) drive through one of the sites of an alleged chemical weapons attack in eastern Ghouta in Damascus suburbs August 28, 2013. REUTERS-Bassam Khabieh
Reuters Photo
(Reuters) - U.N. chemical weapons investigators crossed Syria's front line into rebel-held territory on Wednesday for a second visit to the scene of a poison gas attack that has triggered Western plans for war.

U.S. President Barack Obama and his European and Middle East allies have already blamed President Bashar al-Assad for last week's killing of hundreds of civilians. But the U.N. experts, who were first allowed to cross the front line by Assad's forces on Monday, are still engaged in gathering evidence.

As long as inspectors remain in Syria, Western attacks are improbable, given the risk they would pose to the team's safety. A Reuters journalist saw U.N. cars leave a hotel in government-controlled central Damascus. An opposition activist later said they were starting work in the eastern suburb of Zamalka.
U.N. Secretary General Ban Ki-moon stressed that the inspection team must be given "time to do its job".
With the price of oil and gold soaring and world stock markets hit by fears of an unpredictable new phase of the Syrian civil war, which has split the Middle East on sectarian lines, only the timing of air strikes still seems in much doubt.
The aim, governments say, is to punish Assad's use of banned weapons but not, the White House insists, to impose "regime change" and end a conflict now in its third year. But Russia and China, set on blocking U.N. backing, warn that what they see as an illegal assault on a sovereign state could inflame the war.
Having demanded that Assad end his family's four-decade rule since Syrians rose up against him during the Arab Spring of 2011, Western powers have hesitated to arm the rebels, fearing the rise of Islamist militant groups in their ranks.
In a mark of the complexities of the region, Assad faces not just retribution from neighboring countries and the West but from al Qaeda. The Islamic State in Iraq and the Levant (ISIL) said it was launching an operation called "Volcano of Revenge" that would strike Syrian security forces in Damascus.

TIMING
No Western attack, expected to involve cruise missiles fired by U.S. ships in the Mediterranean, is likely before Obama has a U.S. intelligence report on the August 21 gas attack on rebel-held suburbs of the capital. Its conclusions, however, are scarcely in doubt. Numerous officials have already blamed Assad.
"There is no doubt who is responsible for this heinous use of chemical weapons in Syria," U.S. Vice President Joe Biden said on Tuesday. "The Syrian regime."
A spokesman for British Prime Minister David Cameron said he and Obama spoke on Tuesday and had "no doubt" of Assad's guilt.
Air strikes are unlikely before Cameron has given the British parliament an opportunity to be seen to support his policy, in a debate scheduled for Thursday. Like the United States, Britain has warships in the Mediterranean. It also has an air base on Cyprus, 200 km (120 miles) from the Syrian coast.
The British government is not obliged to win a vote but with voters wary of new military entanglements after over a decade of war in Iraq and Afghanistan, Cameron, like fellow Western leaders, has no wish to be accused of defying public opinion.
Many British lawmakers across the political spectrum uneasy about the prospect of air strikes. A YouGov poll published on Wednesday showed 50 percent of the British public opposed a missile strike on Syria, with just 25 percent in favor.

OPPOSITION
Rallying international opinion is also a concern.
Russia, Assad's main arms supplier, has made clear it will not back any U.N. Security Council resolution of the kind which has given international legal cover to some previous wars - including the NATO bombing of Libya two years ago.
Russian Foreign Minister Sergei Lavrov told U.N. Syria envoy Lakhdar Brahimi that attacking Syria would destabilize the country and the region, the Foreign Ministry said in Moscow.
Syria's war has heightened tensions between Assad's sponsor Iran and Israel, which bombed Syria this year; it has killed over 100,000 and driven millions across borders into Turkey, Lebanon, Jordan and Iraq; and it has fuelled sectarian bloodshed in Lebanon and Iraq, where bombs killed 44 on Wednesday alone.
Iranian Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei said on Wednesday that U.S. action would be "a disaster for the region".
China, too, is wary of what it sees as Western interference in the affairs of others. The official People's Daily newspaper said air strikes would add "oil to the flames of Syria's civil war" and added that, as in the overthrow of Saddam Hussein in Iraq a decade ago, Washington and its allies wanted Assad out.
However, Western governments have rallied support from the Arab League and Syria's Muslim neighbor and NATO member Turkey and have begun to lay out arguments they say show that they can satisfy some criteria of international law.
Australia, which takes over the chair of the U.N. Security Council on Sunday, added its voice on Wednesday to the Western view that continuing deadlock along Cold War lines in the top United Nations body would not rule out an attack on Syria.
"Everyone's preference would be for action, a response, under United Nations auspices," Foreign Minister Bob Carr said.
"But if that's not possible, the sheer horror of a government using chemical weapons against its people, using chemical weapons in any circumstances, mandates a response."
French President Francois Hollande has cited a 2005 U.N. provision for action to protect civilians from their own governments, which was inspired by the Rwandan genocide of 1994.
Similar arguments were used by NATO to bomb Russian ally Serbia in 1999 after the killing of civilians in Kosovo.

SECURITY
On Wednesday, as Britain's National Security Council prepared to meet on Syria, Foreign Secretary William Hague sought to justify an attack on the grounds of defending Britain's own interests. "We cannot permit our own security to be undermined by the creeping normalization of the use of weapons that the world has spent decades trying to control and eradicate," he wrote in Britain's Daily Telegraph newspaper.
Hague warned that Syria's chemical weapons could "fall into the wrong hands". It was unclear how a limited campaign of air strikes would address that - analysts say chemical weapons dumps are unlikely to be bombed for fear of spreading the toxins.
Critics also argue that defeating Assad may carry greater risks of handing his arsenal to the likes of al Qaeda.
Hague further said Russian and Chinese opposition at the United Nations would not prevent military action. "We cannot allow diplomatic paralysis to be a shield for the perpetrators of these crimes," he wrote.
Syria's government denies gassing its own people and has vowed to defend itself, but people in Damascus are anxious.
"I've always been a supporter of foreign intervention, but now that it seems like a reality, I've been worrying that my family could be hurt or killed," said a woman named Zaina, who opposes Assad. "I'm afraid of a military strike now."
Opposition activists have said at least 500 people, and possibly twice that many, were killed last Wednesday before dawn by rockets carrying the nerve gas sarin or something similar.
If true, it would be the worst chemical weapons attack since Saddam Hussein gassed thousands of Iraqi Kurds in 1988.

(Additional reporting by Erika Solomon and Mariam Karouny in Beirut, Steve Gutterman in Moscow and Ben Blanchard in Beijing; Writing by Alastair Macdonald; Editing by Mark Heinrich)

Selasa, 27 Agustus 2013

Indonesia imitates India's costly growth obsession

By Andy Mukherjee
The author is a Reuters Breakingviews columnist. The opinions expressed are his own.

Indonesia is failing to learn from India’s economic misery. That makes it a candidate for a disorderly decline in the currency, runaway inflation and financial instability.
The country’s central bank, which has tightened monetary policy by just 75 basis points this year, left the benchmark interest rate unchanged at 6.5 percent in its Aug. 15 meeting. It also asked banks to rein in credit if they don’t have adequate deposits. While the warning is welcome, it’s not a substitute for raising the price of money.

Indonesia’s real interest rates are already negative: the 8.6 percent inflation rate in July exceeds the 8 percent yield on 10-year government bonds. The longer Jakarta delays tackling the problem, the more entrenched its current account deficit, already high at 2.4 percent of GDP, will become. Then it will be hard to finance the gap, and even harder to reduce it without stalling growth altogether.

Nah Ini Dia! Dua Lelaki Dengan Satu Isteri

Sylvester Mwendwa
BBC Indonesia
Dua lelaki Kenya menandatangani sebuah kesepakatan untuk "menikahi" seorang wanita yang sama. Wanita ini diketahui memiliki hubungan asmara dengan dua lelaki tersebut selama lebih dari empat tahun dan dia menolak untuk memilih satu diantara mereka untuk dijadikan suami.





Dua lelaki yang diketahui bernama Sylvester Mwendwa dan Elijah Kimani itu kemudian membuat kesepakatan untuk "berbagi istri" dengan membuat jadwal tinggal di rumah sang wanita.
Mereka juga berjanji untuk membantu membesarkan setiap anak yang dimilikinya.

Mwendwa kepada BBC mengatakan bahwa dia mencintai wanita tersebut dan mengatakan kontrak kesepakatan ini akan "memasang batas" dan "menjaga perdamaian."

Occidente dice que podría haber un ataque en Siria en días, según fuentes


Photo
Reuters Photo
AMÁN (Reuters) - Las potencias occidentales han dicho a la oposición siria que puede esperar que se produzca un ataque contra las fuerzas del presidente Bashar el Asad en unos días, según fuentes que acudieron a un encuentro entre enviados occidentales y la Coalición Nacional Siria en Estambul.
"A la oposición se le dijo en términos claros que (una) acción para disuadir de un nuevo uso de armas químicas por parte del régimen de Asad podría tener lugar incluso en los próximos días, y que deberían prepararse para unas negociaciones de paz en Ginebra", dijo a Reuters una de las dos fuentes, que acudió al encuentro.

La classe politique divisée sur une intervention en Syrie

Jean-Luc Mélenchon a estimé qu'intervenir militairement en Syrie serait une "erreur gigantesque". Une possible intervention militaire occidentale en Syrie divise la classe politique française, où certains responsables évoquent le risque d'une déstabilisation de la région et appellent à privilégier l'option politique. /Photo d'archives/REUTERS/Gonzalo FuentesPARIS (Reuters) - Une possible intervention militaire occidentale en Syrie divise la classe politique française, où certains responsables évoquent le risque d'une déstabilisation de la région et appellent à privilégier l'option politique.
Le scénario d'une intervention dans le pays, théâtre d'affrontements sanglants depuis plus de deux ans, se précise depuis le bombardement chimique présumé près de Damas la semaine dernière qui aurait fait plus de 1.000 morts.
Le ministre français des Affaires étrangères, Laurent Fabius, a jugé lundi que toutes les options étaient sur la table et dit qu'une décision serait prise dans les jours qui viennent concernant la réponse à apporter à cette attaque.
Invité mardi sur i "Bien sûr que les images (du bombardement dans la Ghouta orientale mercredi dernier) sont choquantes mais on ne peut décider une intervention militaire (...) sur des images (...) alors qu'on ne sait rien, des preuves en sable", a-t-il dit.
"Le passé nous a démontré qu'il y avait beaucoup de mensonges dans ce type d'interventions", a-t-il souligné, citant entre autres les affirmations portant sur la présence "d'armes de destruction massive" en Irak et rappelant le "non héroïque de Jacques Chirac à la guerre en Irak" en 2003.
En intervenant en Syrie, "on se met en dehors de la légalité internationale, en dehors des règles de l'Onu, on va aider (...) des rebelles dominés par les islamistes radicaux, qui mettront en place la charia, qui menaceront les femmes, les chrétiens, les Alaouites qui sont tout de même deux millions et qui seront immédiatement victimes de massacres", a-t-il dit.

"ERREUR GIGANTESQUE"
À l'extrême gauche, Jean-Luc Mélenchon a estimé qu'intervenir militairement en Syrie serait une "erreur gigantesque, peut-être le seuil d'une guerre beaucoup plus large que toutes celles que nous avons vues dans cette région".

"Nous savons que les Nord-Américains ont l'habitude d'utiliser n'importe quelle sorte d'argument pour justifier une intervention militaire, cette fois-ci, c'est le gaz", a dit le coprésident du Parti de gauche, sur BFM TV RMC, appelant à travailler à une "solution politique".
Lundi, le PCF avait, de même, appelé le gouvernement français à privilégier l'option politique et mis en garde contre une intervention militaire qui constituerait "un degré supplémentaire dans l'inacceptable".
Europe-Ecologie-Les-Verts (EELV) a pour sa part demandé en fin de semaine dernière au gouvernement de Jean-Marc Ayrault et à l'Union européenne "de prendre des mesures immédiates pour protéger les civils, en particulier contre les bombardements de l'aviation et l'artillerie de l'armée syrienne".
À l'UMP, l'option d'une intervention hors du cadre du Conseil de sécurité de l'Onu divise.
L'ancien ministre des Affaires étrangères Alain Juppé a appelé à "s'affranchir des blocages" qui persistent au Conseil de sécurité de l'Onu et à apporter une aide militaire à la "résistance syrienne".
"La seule alternative, c'est la poursuite du martyre du peuple syrien. Il ne faudra plus, alors, continuer à verser des larmes de crocodile. Il nous restera le silence de la complicité", conclut-il.
Un appel à agir hors du cadre de l'Onu rejeté par l'ex-ministre UMP Bruno Le Maire, qui estime que "toute intervention militaire ne doit se faire qu'avec les Nations unies."
Selon l'Onu, plus de 100.000 personnes ont été tuées en Syrie depuis le début du soulèvement contre le régime de Bachar al Assad en mars 2011. Près de deux millions de Syriens ont fui à l'étranger.
Marine Pennetier, avec Jean-Baptiste Vey, édité par Patrick Vignal et Gilles Trequesser
 


USA treiben Planungen für Syrien-Militärschlag voran


An excavator is used to search for survivors under the rubble of collapsed buildings as Free Syrian Army fighters and civilians gather at the site after what activists said was shelling by forces loyal to Syria's President Bashar al-Assad in Aleppo's Fardous neighbourhood August 26, 2013. REUTERS/Molhem Barakat (SYRIA - - Tags: POLITICS CONFLICT TPX IMAGES OF THE DAY) - RTX12X9UWashington (Reuters)- Nach dem mutmaßlichen Giftgaseinsatz in Syrien treiben die USA und Großbritannien die Vorbereitungen für einen Militärschlag gegen die Führung in Damaskus voran.
Die "Washington Post" berichtete am Dienstag unter Berufung auf hochrangige Regierungskreise, ein Angriff werde möglicherweise nur ein bis zwei Tage dauern. Außenminister John Kerry sagte, nach Ansicht von Präsident Barack Obama müssten die zur Verantwortung gezogen werden, die "die abscheulichsten Waffen der Welt gegen die verletzlichsten Menschen der Welt" einsetzten. Die Beweise für den Einsatz von Giftgas seien unstrittig, sagte ein Sprecher des Präsidialamtes. Großbritannien forderte ein Einschreiten der internationalen Gemeinschaft. Es werde über eine "angemessene Reaktion" nachgedacht, sagte ein Sprecher von Premierminister David Cameron. Bei dem Angriff in Vororten der Hauptstadt Damaskus waren am vergangenen Mittwoch Hunderte Menschen ums Leben gekommen. Derzeit ermitteln Chemiewaffenexperten der Vereinten Nationen vor Ort, ob es zum Einsatz von Giftgas gekommen ist. Zur Frage, wer Chemiewaffen eingesetzt haben könnte, sagte Kerry, es sei die Regierung Assad, die derartige Waffen besitze und auch die Möglichkeiten habe, sie zu nutzen. Die USA verfügten über zusätzliche Informationen und würden diese bald veröffentlichen. Die Hilfsorganisation Ärzte ohne Grenzen hatte davon berichtet, dass binnen weniger Stunden nach dem Angriff mehrere Tausend Menschen mit Symptomen einer Nervengasvergiftung in Krankenhäuser eingeliefert worden seien, Hunderte seien gestorben. Die Rebellen sprechen von bis zu 1300 Toten.

Operation Somalia: The U.S., Ethiopia and (now) Kenya

By Aaron Maasho
Ethiopia did it five years ago, the Americans a while back. Now Kenya has rolled tanks and troops across its arid frontier into lawless Somalia, in another campaign to stamp out a rag-tag militia of Islamist rebels that has stoked terror throughout the region with threats of strikes.
The catalyst for Nairobi’s incursion was a series of kidnappings by Somali gunmen on its soil. A Frenchwoman was bundled off to Somalia from northern Kenya, while a British woman and two female aid workers from Spain, abducted from a refugee camp inside Kenya,  are also being held across the border.
The incidents caused concern over their impact on the country’s vital tourism industry, with Kenya’s forecast 100 billion shillings or revenue this year expected to falter. The likes of Britain and the United States have already issued warnings against travel to some parts of the country.
Kenyans have so far responded with bravado towards their government’s operation against the al Qaeda-linked al Shabaab group. Local channels regularly show high approval ratings for the campaign, some as high as 98 percent.
“The issue of our security is non-negotiable,” one commentator told a TV station in the wake of the announcement. Another chipped in with:  ”We’ve been casual to the extent of endangering our national sovereignty.  Kenya has what it takes to get rid of this dangerous threat once and for all.”

Isn’t that what the Ethiopians said in late 2006?
After repeated threats of jihad against the predominantly Christian nation, Addis Ababa wasted little time in deploying thousands of highly-trained and battle-ready troops to Somalia against the Islamic Courts Union, the precursor to today’s al Shabaab.
It routed them quickly and the group’s leaders retreated to exile, giving way to the much more militant and aggressive al Shabaab. Addis Ababa then found itself bogged down in near-daily bouts of urban warfare and finally withdrew two years later citing mounting costs and a lack of regional will to sort out the situation.
Al Shabaab have since controlled large swathes of southern Somalia against the internationally-backed government’s control of the capital.
Ethiopia’s ill-fated mission followed a U.S. foray in late 1993. In a bid to capture clan leaders who were trampling on the humanitarian relief following the downfall of dictator Siad Barre in 1991, Washington sent soldiers to enforce a U.N.mission.
The operation ended in disaster. Two Black Hawk  choppers were shot down and 18 servicemen killed.  The bodies of several soldiers were dragged through the streets of Mogadishu and a hasty withdrawal followed.
Though Kenyan troops have already encroached inside Somalia on a number of occasions and are well-trained and supplied, questions remain over how they will cope with a potential guerrilla war against fighters hardened on years of skirmishes in the remote region.
With Kenya keeping a tight lid on details of the operation, the media is asking what the desired end game is.  Initially, there was speculation that Kenya wanted to secure a buffer zone along its long, porous frontier with Somalia.
Government spokesman Alfred Mutua said on Thursday the aim was only to dismantle al Shabaab’s network and leave, not spending an hour longer than necessary in Somalia.
Kenyan soldiers may well find themselves in a different scenario to that of Ethiopia.
Ethiopian troops were at the vanguard of the fight against Somalia’s Islamist militants. In this case, an African Union force of 9,000 has more or less secured Mogadishu, Western allies are providing Kenya with technical support and Somali government troops and allied militias are fighting alongside the east African country.
Will Kenya ultimately prove its doubters wrong and secure gains that have eluded its peers? Or will this be another ill-fated operation that will end up in an embarrassing withdrawal?

Foke: Jokowi akan membuat Jakarta bangkrut

Mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo atau yang biasa disapa Foke memberikan masukan kepada Gubernur DKI saat ini Joko Widodo ( Jokowi ) untuk menindaklanjuti arus urbanisasi di Jakarta. Foke menilai, masalah urbanisasi harus segera diatasi agar nantinya Jakarta tidak seperti kota Detroit di Amerika Serikat yang mengalami kebangkrutan.


Selain itu, Foke mengungkapkan kota Detroit pernah jaya berkat industri otomotifnya. Namun, kota ini mengalami kebangkrutan karena salah urus.

"Saya hanya menggambarkan saja, kota Detroit dulu berjaya, namun tanpa perencanaan yang matang, kota ini menjadi bangkrut karena tidak melakukan pembiayaan layanan dengan baik. Saya kira Jakarta jangan mengarah ke sana, harus ada penanganan dengan perencanaan yang matang," kata Foke.

Pernyataan Foke tersebut, seakan menyindir Jokowi yang memiliki banyak program untuk merubah Jakarta. Lalu benarkah Jokowi akan membawa Jakarta bangkrut seperti Detroit?

Menurut pengamat perkotaan Yayat Supriatna, Jakarta tidak bisa disamakan dengan Detroit. Apabila Detroit hanya mengandalkan sektor perindustrian, Jakarta memiliki banyak potensi yang lebih banyak.

"Jakarta itu Ibu Kota negara, dan kota yang memiliki APBD terbesar di Indonesia yaitu Rp 50 Triliun. Jakarta juga memiliki potensi seperti industri, pelabuhan perdagangan dan lainnya, jadi sulit untuk bangkrut seperti Detroit yang mengandalkan satu sektor saja," ujar Yayat saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (26/8).

Yayat mengatakan program yang dimiliki oleh Jokowi untuk saat ini masih belum termasuk kategori menyedot anggaran yang besar. Artinya, pembangunan rusun, waduk dan monorel masih dalam batas kewajaran.

"Namun ambisi seorang gubernur harus sesuai dengan amunisi (anggaran)," pintanya.

Mesti demikian, Yayat juga menyayangkan dengan ucapan Foke yang mengatakan kalau Jakarta bisa bangkrut apabila terlalu banyak program. Dia menilai, ucapan Foke tersebut hanyalah pernyataan politik saja.

"Baiknya dia tidak menakut-takuti dengan kata 'nanti bangkrut'," tuturnya.

Selain itu, Yayat berharap guyonan semacam itu tidak perlu dikeluarkan apabila ingin Jakarta menjadi lebih baik. Harusnya, antisipasi masalah korupsi, kolusi dan nepotisme yang perlu ditingkatkan ketimbang masalah Jakarta bangkrut atau tidak.

"Pokoknya untuk bangkrut masih jauh. Dan masalah KKN itu lebih menarik dibahas daripada masalah bangkrut," ucapnya.

Menlu RI Mengecam Pemakaian Senjata Kimia Di Suriah

Menlu RI dalam pertemuannya dengan Deputi Sekjen PBB pada tanggal 26 Agustus 2013 di Markas Besar PBB di New York menegaskan sikap Indonesia yang mengecam penggunaan senjata kimia di Suriah yang telah mengakibatkan jatuhnya korban warga sipil yang tidak berdosa. “ Masyarakat internasional tidak dapat membiarkan semakin memburuknya situasi di Suriah. Jika terbukti, penggunaan senjata kimia menandai titik terendah dalam konflik di Suriah” ujar Menlu RI.
“Kita perlu memberikan dukungan kepada upaya investigasi PBB atas dugaan penggunaan senjata kimia di Suriah dan masyarakat internasional perlu  memastikan agar pelaku tindakan tidak berperikemanusiaan tersebut mempertanggungjawabkan perbuatannya” tegas Menlu RI.

Pandangan tersebut disampaikan menlu RI dalam pembicaraannya dengan Wakil Sekjen PBB mengenai berbagai perkembangan di Timur Tengah akhir-akhir ini.

Secara khusus, Menlu RI kembali menegaskan perlunya peran utama PBB, khususnya DK PBB dalam menyelesaikan berbagai situasi yang dapat mengancam perdamaian dan keamanan internasional.

Disamping masalah termaksud, Deputi Sekjen PBB menyampaikan penghargaan atas peran Indonesia di kawasan Asia Pasifik serta peran Indonesia dalam pembahasan kerangka pembangunan global pasca 2015.

Pada kesempatan terpisah, Menlu RI juga telah mengadakan pembicaraan telepon dengan Menlu Turki untuk masalah yang sama. (Sumber : Dit. Infomed/BAM)

Senin, 26 Agustus 2013

Menjinakkan Anak Wilayah Tanah Abang

Photo Antara
TEMPO.CO, JakartaTaufik alias Opik, 37 tahun, sibuk mengamati para pedagang yang mendaftar untuk mendapatkan kios di Blok G Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. "Yang ini pedagang di Kebon Kacang, yang ini saya tidak tahu," katanya kepada Tempo sambil memperhatikan satu per satu berkas pendaftar di kantor Kecamatan Tanah Abang, Jumat pekan lalu. "Saya sudah hafal nama, wajah, dan alamat PKL."


Taufik adalah satu dari puluhan "anak wilayah" di Pasar Tanah Abang yang berperan dalam proses verifikasi. Lelaki yang mengenakan baju koko ini tahu betul siapa-siapa PKL di sepanjang Jalan K.H. Mas Mansyur sampai Pasar Jati. Namun Taufik menolak dikatakan sebagai anak wilayah. "Itu maknanya terlalu luas," ujarnya. Dia lebih setuju disebut sebagai pedagang yang telah turun-temurun berjualan di Tanah Abang.
"Anak wilayah" lainnya, Aris, 45 tahun, mengaku pasrah karena sekarang jasa keamanan yang dia jual kepada PKL tak laku lagi. "Dulu pendapatan saya sampai Rp 2 juta sebulan," kata mantan preman Tanah Abang yang mengurus sekitar 40 PKL ini.

Aris mengatakan tidak ada paksaan setiap kali memungut uang dari para pedagang. "Istilahnya suka sama suka," ujarnya. "Tapi kadang kami negosiasi. Kalau pedagang mampu membayar Rp 200 ribu per hari, ditawar jadi Rp 300 ribu. Mereka mau." Sama seperti Taufik, Aris juga tahu betul mana PKL Tanah Abang dan mana yang bukan.

Camat Tanah Abang, Hidayatullah, mengatakan pemerintah sengaja merangkul 75 "anak wilayah" dalam proses penyaringan pedagang Blok G karena merekalah yang tahu betul PKL yang berjualan di Tanah Abang. "Sekaligus agar anak wilayah ini tak mengajak para PKL untuk kembali turun ke jalan," ujarnya. Pendekatan kepada mereka, menurut Hidayatullah, dilakukan sejak awal Juli lalu.

Meski sudah didekati, toh upaya pembongkaran lapak PKL di Blok F beberapa hari setelah Lebaran berlangsung ricuh. Sejumlah anak wilayah menyerang petugas. Setelah itu, dilakukan pendekatan lagi sampai dituangkan dalam surat perjanjian. "Nantinya, anak wilayah itu akan menjadi petugas keamanan," kata Hidayatullah.

Dalam wawancara dengan Tempo, dua pekan lalu, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan membenahi PKL di Tanah Abang tak sesulit di Solo. "Dulu sampai tujuh bulan dengan 54 kali pertemuan, tapi ini tidak sampai 10 kali," katanya. Mantan Wali Kota Solo itu memerintahkan Wali Kota Jakarta Pusat Saefullah bernegosiasi dengan mereka yang punya kepentingan di Tanah Abang. "Kalau mentok, baru ke saya."

Ihwal penertiban PKL Tanah Abang, mantan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo berharap agar langkah itu tak berhenti. "Saya doakan mudah-mudahan langgeng," ujarnya. Menurut Fauzi, PKL memang harus ditertibkan dari jalan karena mengakibatkan kemacetan lalu lintas.
Belum juga PKL resmi berjualan di Blok G pada 1 September nanti, sejumlah bekas PKL Tanah Abang menyatakan bakal nekat berjualan di jalan jika tak mendapat kios. "Saya mau dagang lagi di Jalan Kebon Jati," kata Iwan, 30 tahun, pedagang jilbab di Tanah Abang sejak 2004. Dia mengaku tak takut digaruk petugas dan disidang karena melanggar aturan. "Bukan cuma saya kok, teman-teman yang lain juga mau nekat sebagai bentuk protes."

Fatin Ditawari Rekaman di Inggris

Louis Walsh Tawari Fatin Sidqia Lubis Rekaman di InggrisTRIBUNNEWS.COM, JAKARTA Fatin Sidqia Lubis seolah mendapat durian runtuh seusai tampil duet bersama The Collective di ajang X Factor Around The World. Selain pujian dan kekaguman akan kualitas vokalnya, dia juga ditawari rekaman.
Tawaran itu datang dari Juri X Factor UK Louis Walsh. Orang dibalik kesuksesan Westlife, Boyzone, dan Take That ini melihat ada potensi lebih dari sosok Fatin. ”Saya ingin kamu rekaman di tempat saya,” katanya.
Louis tak main-main dengan tawarannya. Bahkan dia mengulang lagi permintaannya itu saat sesi berbicang-bincang. Dia meyakini Fatin akan sukses dengan keunikan vokalnya. ”Dia bagus,” ucapnya. 


Paula Abdul: Fatin Kamu Luar Biasa

Fatin Shidqia Lubis menjadi jawara ketiga yang tampil di panggung X Factor Around The World, Hall D2 JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (24/8/2013) malam.
Fatin membawakan single pertama dia yang juga merupakan lagu kemenangannya, Aku memilih Setia.
Tampak Paula Abdul, juri dari negara lain, ikut menggoyang-goyangkan kepala.
Tak hanya Paula, semua juri memuji suara dan penampilan Fatin. Paula bilang sangat menyukai suara Fatin.
"Kau luar biasa. Suaramu indah, tulus," kata Paula. "Orang langsung jatuh cinta pada penampilanmu."
X Factor Around The World digelar dalam rangka perayaan ulang tahun ke-24 stasiun TV RCTI. Acara ini mengompetisikan jawara X-Factor dari seluruh dunia, di antaranya Melanie Amaro juara X Factor Amerika Serikat, Samantha Jade juara X Factor Australia, The Collective juara X Factor Australia, dan Jarmene Douglas juara X Factor Inggris. Dari Indonesia sendiri akan diwakilkan oleh Fathin dan Novita Dewi.
Selain Paula Abdul, juri X Factor negara lain juga turut berpartisipasi. Mereka adalah Daniel Bedingfield juri X Factor Selandia Baru, Louis Walsh juri X Factor Inggris. Sementara Ahmad Dhani dan Anggun mewakili juri X Factor Indonesia.

Konser Fenomenal Metallica di Jakarta Berakhir Damai

MetallicaKonser grup musik cadas asal California, AS, Metallica mendapat banyak pujian dan berlangsung aman saat dipentaskan Minggu (25/08) malam di lapangan sepakbola Gedung Olah Raga Bung Karno, Jakarta. Panggung musik hingar-bingar ini berlangsung dua jam tanpa jeda, menampilkan nomor-nomor terbaik Metallica dalam sedikitnya 18 lagu.

Puluhan ribu penonton yang sangat menikmati pertunjukan ini nampaknya sangat mengesankan empat pemain yang jejingkrakan di panggung.
"Kalian kangen pada sobat-sobat dari Metallica?" seru vokalis dan gitaris James Hatfield yang langsung disambut tempik sorak fans.
Kuartet musik keras yang sudah sembilan kali diganjar penghargaan Grammy di AS ini sudah pernah manggung di Jakarta 20 tahun lalu. Saat itu dua hari konser di Stadion Lebak Bulus ditutup dengan rusuh massa yang ditandai dengan pembakaran dan perusakan ratusan bangunan dan kendaraan.
"Kami masih ingat ada kerusuhan di luar stadion sampai akhirnya diungsikan dengan ambulans," kenang gitaris Kirk Hammet dalam sesi konferensi pers beberapa saat sebelum manggung.
Jejak kerusuhan tahun 1993 itu sama sekali tak nampak dalam konser yang terutama dipadati kelompok fans usia diatas 30 tahun, mereka yang sejak bocah menggemari jenis musik riuh ini.
"Kita berterimakasih kepada promotor yang sudah membawa mimpi kita sejak kecil disini," teriak Arian, vokalis band Seringai yang terpilih menjadi aksi pembuka konser Metallica.

'Kok bisa'

Selain Hatfield dan Hammet, Metallica juga diawaki Lars Ulrich (drum) dan Robert Trujillo (bass). Trujillo yang tampil dengan memamerkan lengan gempal berotot dan rambut dikepang dua banyak disebut-sebut media di Jakarta dua bulan lalu saat mengirim salah satu gitar bas-nya untuk Gubernur Jakarta, Joko Widodo.
Gubernur Jokowi yang dikenal sangat menggemari musik keras, semalam juga tampil berkaos hitam menonton konser dengan takzim berdiri di tengah barisan penonton kelas festival.
Dengan sangat simpatik, berkali-kali Hatfield melontarkan kalimat sapaan dan candaan yang disambit tepuk sorak barisan penonton fanatiknya.
Hatfield tak nampak beranjak tua, atau kelelahan, meski menyanyi non-stop.
"Kalian kelihatannya bersemangat sekali malam ini," sapanya sambil tersenyum dari layar lebar yang dipasang panitia di belakang dan dua sisi panggung.
"Kalian mau (musik) heavy Jakarta? Metallica akan kasih kalian heavy, baby", seru Hatfield dan meluncurlah Sad but True.
Dari belasan repertoar yang dimainkan, hampir seluruhnya dimainkan dengan musik dan vokal yang sangat bertenaga, termasuk saat Master of Puppets, Creping Death, Seek and Destroy dilantunkan dan disambut penonton dengan head bang dan acungan jari yang membentuk tanduk ke udara.
Tercatat hanya Nothing Else Matters nomor relatif lembut yang dibawakan oleh Metallica.
Dengan usia awak band rata-rata mendekati setengah abad, termasuk Hatfield yang genap 50 tahun, penampilan penuh tenaga ini dipuji fans.
"Saya juga heran, kok bisa enggak ada bedanya sama 20 tahun lalu," komentar Teguh Biantoro, 45, sambil geleng kepala.
Teguh mengaku nonton aksi panggung Metallica di Lebak Bulus tahun 1993 dan ia nampak girang menyaksikan konser kali ini.
"Ternyata memang bagus sekali, sekali dalam 20 tahun man" Mario Pratama
"Puas banget deh," kata warga asal Depok ini.
Pujian juga datang dari sekelompok anak belasan tahun yang mengaku datang karena "penasaran pada cerita para senior" di sekolah.
Mario Pratama, 17, bersama empat kawan dari Ciputat untuk menuntaskan rasa ingin tahu pada Metallica.
"Ternyata memang bagus sekali, sekali dalam 20 tahun man," pujinya sambil mengacungkan tiga jari salam metal.

Matang

Fans MetallicaFans antusias merekam kenangan konser '20 tahun sekali' ini.
MeskiKlik Jakarta sudah Klik menjadi sarang konser musisi ternama dunia dalam beberapa tahun terakhir, konser Metallica kelihatan dianggap istimewa di mata penggemar.
Sepanjang akhir pekan media nasional menyiarkan berbagai sisi tentang penyelenggaraan pentas musik ini, termasuk bagaimana calon penonton rela datang dari berbagai daerah dan menginap di tenda seadanya agar bisa mengirit uang untuk menonton Metallica manggung.
Nicolaj Andersen datang dari Bali juga khusus untuk menonton setelah terakhir menonton penampilan grup keras ini di Kopenhagen, 20 tahun lalu saat baru berusia 14 tahun.
"Ini konser yang cukup emosional buat saya, karena mereka adalah idola masa kecil saya posternya ada di dinding kamar," kata warga Denmark ini.
Yang menarik perhatiannya, menurut Andersen selain fisik yang tampak sangat prima adalah perubahan grup yang dinilainya merupakan buah 'kematangan' usia para awak, terutama sang motor band, James Hatfield.
"Kalian hebat Jakarta, we'll be back soon" James Hatfield
"Hatfield dulu kalau manggung suka menggunakan kata-kata kasar, sekarang hampir tidak sama sekali. Ia sangat berubah," pujinya. Secara umum konser yang dijaga sekitar 3.000 ribu aparat ini berlangsung mulus tanpa insiden berarti. Dan Metallica nampaknya merasakan aliran energi positif dari para pecintanya selama di Jakarta.

"Kalian hebat Jakarta, we'll be back soon," janji Hatfield di akhir panggung.
(sumber: BBC News)

Präsident Assad warnt USA vor zweitem Vietnam


Moskau (Reuters) - Der syrische Präsident Baschar al-Assad hat die USA vor einem militärischen Eingreifen in den Konflikt in seinem Land gewarnt.
Den USA drohe ein Scheitern wie in allen bisherigen Kriegen, sagte Assad der russischen Zeitung "Iswestia" in einem am Montag veröffentlichten Interview und verwies darin auf Vietnam. Zudem wies er die Vorwürfe von westlichen Regierungen zurück, aus politischen Gründen Chemiewaffen gegen die eigene Bevölkerung eingesetzt zu haben. Die russische Regierung, die zu den Verbündeten Assads gehört, zeigte sich besorgt über eine mögliche militärische Intervention der USA und rief zu Zurückhaltung auf.
Außenminister Sergej Lawrow habe bei einem Telefongespräch seinen US-Amtskollegen John Kerry darauf hingewiesen, dass die Ankündigungen der USA mit Sorge zur Kenntnis genommen würden. Die USA sind Verteidigungsminister Chuck Hagel zufolge auf ein militärisches Eingreifen in Syrien vorbereitet, sollte sich US-Präsident Barack Obama dafür entscheiden. Ein hochrangiger republikanischer US-Abgeordneter geht davon aus, dass Obama den Kongress um Zustimmung für einen Militärschlag bittet, wenn die Parlamentarier aus der Sommerpause zurückkehren. In der Vergangenheit hatte Obama den Einsatz von Chemiewaffen als rote Linie bezeichnet.
Am Montag wollen die Chemiewaffenexperten der Vereinten Nationen (UN) den Ort besuchen, wo am Mittwoch in Syrien mutmaßlich Nervengas eingesetzt worden war. Dabei starben nach Angaben der Organisation Ärzte ohne Grenzen mehrere Hundert Menschen, darunter viele Kinder. Unklar ist aber, wer verbotene Chemiewaffen eingesetzt hat, ob Rebellen oder Truppen der Regierung. Assad sagte, es entspreche nicht der Logik, wenn die Regierung dort Giftgas eingesetzt hätte, denn in unmittelbarer Nähe hätten sich syrische Truppen aufgehalten.
In Telefongesprächen mit mehreren seiner ausländischen Amtskollegen sagte Kerry, es gebe wenig Zweifel daran, dass Assads Truppen die eigene Bevölkerung vergast hätten. Er habe das Thema mit den Vertretern Frankreichs, Großbritanniens, Kanadas und Russlands sowie mit UN-Generalsekretär Ban Ki Moon besprochen, teilte das US-Außenministerium mit. Auch die Bundesregierung geht dem britischen Premierminister David Cameron zufolge davon aus, dass die Regierung hinter dem Angriff steht. Cameron habe mit Bundeskanzlerin Angela Merkel per Telefon über eine Reaktion der Staatengemeinschaft beraten, erklärte ein Sprecher des Premiers. Von der Bundesregierung lag dazu zunächst keine Stellungnahme vor. Frankreichs Außenminister Laurent Fabius sagte, bisher sei noch keine Entscheidung zu einem möglichen Militärschlag getroffen. "Alle Optionen werden untersucht. Die einzige, die nicht auf dem Tisch liegt, ist, nichts zu tun", sagte er dem Sender Europe 1. Die Türkei wolle sich einer internationalen Koalition gegen Syrien anschließen, sagte Außenminister Ahmet Davutoglu der Zeitung "Milliyet".